Logo Header Antaranews Makassar

Wagub Sulsel tekankan penguatan koordinasi wilayah demi jaga stabilitas pangan

Jumat, 8 Mei 2026 09:10 WIB
Image Print
Wagub Sulsel Fatmawati Rusdi memberikan arahan pada kegiatan HLM Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Sulawesi Selatan jelang Idul Adha di Makassar.ANTARA/HO-Humas Pemprov Sulsel (.)

Makassar (ANTARA) - Wakil Gubernur Sulawesi Selatan (Wagub Sulsel) Fatmawati Rusdi menekankan pentingnya penguatan koordinasi antarwilayah guna memastikan distribusi pangan tetap lancar dan harga kebutuhan masyarakat tetap terkendali khususnya jelang Idul Adha.

Menurut dia, momentum Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idul Adha dinilai berpotensi meningkatkan permintaan sejumlah komoditas pangan strategis sehingga diperlukan langkah antisipasi sejak dini untuk menjaga stabilitas harga dan pasokan di daerah.

“Kegiatan HLM TPID (high level meeting Tim Pengendalian Inflasi Daerah, red.) ini menjadi momentum penting memperkuat koordinasi pengendalian inflasi, menjaga stabilitas harga, sekaligus meningkatkan efisiensi distribusi pangan,” ujar Fatmawati dalam keterangannya di Makassar, Jumat.

Ia mengatakan Sulawesi Selatan sempat mengalami tekanan inflasi cukup tinggi pada awal tahun 2026. Pada Februari 2026, inflasi Sulsel tercatat mencapai 6,13 persen secara tahunan dan menempatkan Sulsel dalam kelompok provinsi dengan inflasi tinggi nasional.

Namun, berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS) per 4 Mei 2026, inflasi Sulsel berhasil ditekan menjadi 2,68 persen secara year on year (yoy) dan kembali masuk dalam rentang target inflasi nasional sebesar 2,5 persen plus minus 1 persen.

“Alhamdulillah, Sulawesi Selatan sudah keluar dari klaster inflasi tertinggi nasional. Tetapi ini tetap harus kita jaga bersama,” katanya pada kegiatan HLM TPID.

Fatmawati menjelaskan sejumlah komoditas pangan strategis masih perlu mendapat perhatian serius, terutama cabai rawit, cabai besar, bawang, beras, ikan bandeng, ikan laut, hingga udang basah.

Ia menyoroti kondisi ketahanan stok beberapa komoditas yang mulai terbatas, seperti cabai rawit yang hanya memiliki ketahanan stok sekitar tiga hari, gula pasir 31 hari, serta cabai besar 34 hari. Adapun beras 408 hari, bawang merah 384 hari, bawang putih 72 hari dan daging sapi 220 hari.

Meski demikian, pemerintah memastikan langkah antisipatif distribusi pangan dan intervensi pasar telah disiapkan untuk menjaga ketersediaan komoditas dan mencegah lonjakan harga.

Karena itu, Wagub meminta seluruh TPID kabupaten/kota segera melakukan langkah antisipasi, termasuk menggelar Gerakan Pangan Murah (GPM), memperkuat distribusi pangan, serta memanfaatkan kerja sama antar daerah bagi wilayah surplus dan defisit komoditas.

“Daerah yang mengalami defisit komoditas pangan harus segera menjalin kerja sama dengan daerah surplus. Ini penting agar pasokan tetap stabil dan harga tidak melonjak,” katanya menegaskan.



Pewarta :
Editor: Daniel
COPYRIGHT © ANTARA 2026