
DKP Sulbar : Waspada ikan mengandung bahan kimia berbahaya

Mamuju (ANTARA) - Bidang Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Sulawesi Barat memastikan produk perikanan yang beredar termasuk di pasar tradisional di daerah itu bebas dari bahan kimia berbahaya.
"Secara rutin, kami melakukan pengawasan terhadap produk perikanan yang beredar di pasar tradisional untuk memastikan ikan yang dijual, bebas dari bahan kimia berbahaya," kata Kabid PSDKP Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulbar Irwan Latif di Mamuju, Jumat (8/5).
Selain melakukan pengecekan, Tim PSDKP Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulbar, kata Irwan Latif, juga memberikan edukasi dan sosialisasi mengenai Bahan Tambahan Pangan (BTP) berbahaya di area Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Binanga Kabupaten Mamuju.
Petugas menyasar para pedagang ikan dan masyarakat umum untuk memberikan pemahaman mendalam mengenai perbedaan BTP yang diizinkan dan yang dilarang.
"BTP pada dasarnya adalah bahan yang ditambahkan untuk mempengaruhi sifat atau bentuk pangan. Namun, penggunaan zat seperti formalin, boraks, pewarna tekstil, hingga residu pestisida pada produk perikanan adalah tindakan ilegal yang membahayakan kesehatan," jelas Irwan Latif.
Pada edukasi tersebut, tim PSDKP juga memberikan panduan praktis dengan membagikan flyer edukasi kepada konsumen untuk mengenali ciri-ciri ikan yang diduga mengandung formalin, zat yang sering disalahgunakan agar ikan terlihat segar lebih lama namun bersifat karsinogenik.
Irwan Latif menegaskan rantai distribusi ikan, dari mulai didaratkan hingga ke tangan konsumen harus terpantau ketat.
"Edukasi ini adalah langkah preventif, namun kami juga tidak segan melakukan tindakan tegas sesuai regulasi, jika ditemukan oknum yang sengaja mencemari produk perikanan dengan zat berbahaya. Keamanan konsumen adalah prioritas pengawasan kami," tegas Irwan Latif.
Sementara Murni, pedagang ikan di PPI Binanga menegaskan komitmennya dalam menjaga kesegaran ikan secara alami.
"Kalau bahan berbahaya seperti formalin atau boraks, kami tidak pernah pakai. Bahkan pewarna makanan pun kami hindari karena dampaknya tetap tidak bagus. Begitu ikan turun dari kapal langsung dijual," jelas Murni.
Sedangkan, Fadli seorang warga mengatakan kehadiran pemerintah di tengah pasar sangat membantu masyarakat dalam memberikan keamanan pangan.
"Ini membantu masyarakat awam yang awalnya asal beli saja tanpa tahu ada campuran bahan berbahaya. Kami sangat mendukung fungsi pengawasan seperti ini agar apa yang kami makan benar-benar sehat," kata Fadli.
Pewarta : Amirullah
Editor: Riski Maruto
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
