
Dinkes Sulbar memperkuat strategi konvergensi penanganan stunting

Mamuju (ANTARA) - Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Provinsi Sulawesi Barat berkomitmen memperkuat strategi konvergensi penanganan stunting melalui empat pendekatan utama.
"Kami berkomitmen terus mendorong penguatan strategi konvergensi melalui empat pendekatan utama," kata Kepala Dinas Kesehatan P2KB Provinsi Sulbar Nursyamsi Rahim di Mamuju, Kamis.
Keempat pendekatan itu, yakni prioritas pada 1.000 hari pertama kehidupan dan penguatan peran posyandu serta puskesmas sebagai garda terdepan pelayanan dasar.
Kemudian, penguatan ketahanan pangan lokal berbasis potensi daerah serta peningkatan sinergi lintas sektor antara Polri, pemerintah daerah dan masyarakat hingga tingkat komunitas.
Nursyamsi menyampaikan bahwa stunting diperkirakan menyebabkan kerugian ekonomi hingga 2-3 persen dari produk domestik bruto (PDB) Indonesia setiap tahunnya.
"Sebaliknya, investasi pada perbaikan gizi anak terbukti memberikan dampak ekonomi yang besar, di mana setiap satu rupiah yang diinvestasikan pada gizi anak dapat menghasilkan nilai ekonomi hingga 16-48 rupiah dalam jangka panjang," jelas Nursyamsi
Nursyamsi menyampaikan, pihaknya juga akan terus mengawal intervensi gizi hingga menyentuh keluarga paling rentan.
Hal itu lanjutnya, sebagai bagian dari upaya mewujudkan generasi Sulbar yang sehat, cerdas, produktif dan berkarakter menuju Indonesia Emas 2045.
"Indonesia Emas 2045 bukan hadiah, tetapi hasil kerja kolektif yang dimulai hari ini. Setiap anak yang kita selamatkan dari stunting adalah satu langkah lebih dekat menuju Sulbar yang maju dan Indonesia yang berdaulat," tegasnya.
Sementara, Kepala Bidang Kesehatan Primer dan Komunitas Dinas Kesehatan P2KB Sulbar Putri Anindy mengatakan, kualitas gizi anak merupakan fondasi utama dalam membangun sumber daya manusia yang unggul, sehat dan berdaya saing.
Ia menjelaskan bahwa stunting tidak hanya berdampak pada pertumbuhan fisik anak, tetapi juga mempengaruhi perkembangan kognitif, produktivitas kerja di masa depan, hingga ketahanan ekonomi keluarga dan daerah.
"Penanganan stunting bukan hanya isu kesehatan, tetapi investasi strategis untuk masa depan bangsa. Anak-anak yang tumbuh sehat hari ini adalah kekuatan ekonomi Indonesia di masa mendatang," katanya.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi Sulbar, jumlah balita stunting pada 2025 tercatat sebanyak 19.596 kasus.
Angka tersebut mengalami penurunan signifikan sebesar 7.230 kasus dibandingkan tahun 2024 yang mencapai 26.826 kasus.
Capaian ini menunjukkan bahwa intervensi lintas sektor yang selama ini dilakukan mulai memberikan hasil positif.
"Meski demikian, tantangan penanganan stunting masih terus dihadapi. Kabupaten Polewali Mandar dan Mamuju masih menjadi daerah dengan angka stunting tertinggi, sementara Kabupaten Mamuju Tengah mencatat angka terendah di Sulbar," terang Putri Anindy.
Pewarta : Amirullah
Editor: Daniel
COPYRIGHT © ANTARA 2026
