Logo Header Antaranews Makassar

Pembebasan relawan kemanusiaan WNI di Israel direspons positif

Jumat, 22 Mei 2026 07:29 WIB
Image Print
Sejumlah relawan menggelar aksi solidaritas bagi WNI dan jurnalis yang diculik Israel di Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis (21/5/2026). ANTARA FOTO/Hasrul Said.

Makassar (ANTARA) - Kabar pembebasan sejumlah relawan dan aktivis kemanusiaan tergabung dalam Global Peace Convoy Indonesia (GPCI), Global Sumud Flotilla 2.0 dan Freedom Flotilla Coalition (FFC) yang ditahan tentara zionis Israel, termasuk sembilan Warga Negara Indonesia (WNI), mendapatkan respons positif.

"Itu juga kami dapatkan, ada perintah (deportasi). Tapi, mudah-mudahan itu menjadi kabar gembira untuk kita semua, bagi keluarga dan masyarakat di Indonesia agar mereka segera dibebaskan," ujar penggerak Gerakan Berisik Bela Palestina Amir di Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis.

Menurut dia, walau kabar tersebut belum ada kepastian, namun tidak ada alasan pemerintah Israel menahan mereka, sebab yang dijalankan adalah misi kemanusiaan, membantu warga Palestina untuk menyalurkan bantuan bukan melakukan perlawanan dengan senjata.

Selain itu, Tindakan penangkapan aktivis dan relawan kemanusiaan oleh pihak zionis Israel telah mendapat kecaman keras dari sejumlah organisasi keagamaan organisasi masyarakat dan lembaga-lembaga kemanusiaan untuk terus menyuarakan pembebasan mereka.

Pihak Global Peace Conference Indonesia bahkan terus berkomunikasi dengan pemerintah melalui Kementerian Luar Negeri untuk terus mendorong upaya diplomasi agar sembilan WNI ini segera dipulangkan ke Indonesia.

"Kami memahami barangkali pemerintah tidak memiliki hubungan diplomatik langsung di Israel. Tentu, harus berfikir keras, kira-kira upaya dilakukan membangun komunikasi dengan Kedubes negara mana yang punya hubungan diplomatik Indonesia dan juga dengan Israel," papar Manajer Rumah Zakat Indonesia Timur ini.

Kendati demikian, pihaknya mengapresiasi upaya dijalankan Pemerintah Pusat mencari cara pembebasan relawan WNI tersebut. Pihaknya berharap, ada perkembangan informasi agar keluarga tidak khawatir termasuk menunggu kepastian pemulangan mereka.

Sebelumnya, puluhan relawan menggelar aksi solidaritas digelar di Jalan Andi Pangeran Pettarani Makassar. Spanduk dan poster berisi dukungan dan doa agar para relawan kemanusiaan yang ditahan di ruangan penahanan Ketziot, Israel dibebaskan.

Sebelumnya, puluhan kapal yang membawa 450 relawan dari berbagai negara termasuk sembilan WNI dengan misi kemanusiaan membawa bantuan ke Palestina dicegat Angkatan Laut Zionis Israel di Laut Lepas Mediterania pada Senin, 18 Mei 2026.

Sembilan orang WNI Indonesia yang ditahan tersebut tersebut masing-masing Herman Budianto Sudarsono (GPCI-Dompet Dhuafa) Kapal Zapyro. Ronggo Wirasanu (GPCI-Dompet Dhuafa) Kapal Zapyro. Andi Angga Prasadewa (GPCI-Rumah Zakat) Kapal Josef. Asad Aras Muhammad (GPCI-Spirit of Aqso) Kapal Kasr-1. Hendro Prasetyo (GPCI-SMART 171) Kapal Kasr-1.

Selanjutnya Bambang Noroyono (Jurnalis Republika) Kapal BoraLize. Thoudy Badai Rifan Billah (Jurnalis Republika) Kapal Ozgurluk. Andrie Prasetyo Nugroho (Jurnalis Tempo) Kapal Ozgurluk dan Rahendro Herubowo (GPCI- Jurnalis iNewsTV, Berita Satu, CNN) kapal Ozgurluk.

Sembilan relawan WNI ditahan di Israel dibebaskan

Berdasarkan perkembangan terbaru, pihak GPCI mengonfirmasi bahwa semua relawan kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF), termasuk sembilan Warga Negara Indonesia (WNI) yang sempat ditahan oleh militer Israel, telah dibebaskan.

Koordinator Media GPCI Harfin Naqsyabandy saat dikonfirmasi di Jakarta, Kamis, menyampaikan bahwa pada relawan sebelumnya ditahan di Penjara Ktziot oleh otoritas Israel, telah dibebaskan dari fasilitas penahanan itu.

Kini mereka sedang dalam proses deportasi dan pemulangan keluar dari wilayah Israel melalui Bandara Ramon/Eilat menuju Istanbul, Turki.

"Tim hukum Adalah (organisasi HAM setempat) terus melakukan pemantauan ketat untuk memastikan seluruh aktivis, termasuk WNI, dapat keluar dengan aman tanpa penundaan tambahan," kata Harfin.



Pewarta :
Editor: Riski Maruto
COPYRIGHT © ANTARA 2026