Logo Header Antaranews Makassar

Unhas dan CSIS bahas dekarbonisasi industri baterai kendaraan listrik

Rabu, 10 Juni 2026 05:09 WIB
Image Print
Departemen Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Hasanuddin (Unhas) bekerja sama dengan Center for Strategic and International Studies (CSIS) menggelar seminar publik membahas dekarbonisasi industri baterai kendaraan listrik di Makassar, Selasa (9/6/2026). ANTARA/HO-Endang

Makassar (ANTARA) - Departemen Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Hasanuddin (Unhas) bekerja sama dengan Center for Strategic and International Studies (CSIS) menggelar seminar publik membahas dekarbonisasi industri baterai kendaraan listrik.

Sekretaris Universitas Hasanuddin, Prof Ir Sumbangan Baja saat membuka seminar tersebut di Makassar, Selasa, menegaskan komitmen Universitas Hasanuddin dalam mendukung agenda dekarbonisasi melalui penguatan riset baterai, kajian kredit karbon, serta pengembangan kendaraan listrik di lingkungan kampus.

"Dekarbonisasi menjadi isu strategis yang tidak dapat dipisahkan dari upaya menghadapi perubahan iklim dan menjaga keberlanjutan pembangunan industri nasional," ujarnya.

Pada seminar itu, menghadirkan narasumber dari kalangan pemerintah, akademisi, peneliti, dan dunia usaha, termasuk Bupati Morowali Utara Delis Julkarson Hehi.

Prof Dr Sumbangan Baja mengungkapkan kegiatan bertujuan membahas tantangan dan peluang dekarbonisasi dalam pengembangan industri baterai dan kendaraan listrik (electric vehicle/EV) Indonesia, khususnya di tengah pesatnya hilirisasi industri nikel yang menjadi tulang punggung rantai pasok baterai global.

Sementara itu, Bupati Morowali Utara Delis Julkarson menjelaskan bahwa Indonesia memiliki peluang besar menjadi pemain utama dalam industri baterai kendaraan listrik dunia, karena menguasai sekitar 53 persen cadangan nikel global.

Namun demikian, ia mengingatkan bahwa keberhasilan hilirisasi harus diiringi dengan upaya pengurangan emisi karbon melalui pengembangan energi terbarukan, penerapan teknologi penangkapan karbon (CCUS), serta penerapan standar lingkungan global yang semakin ketat.

Peneliti CSIS, Via Azlia Widiyati dalam pemaparannya menyoroti pentingnya membangun green value chain dalam industri kendaraan listrik Indonesia.

Menurutnya, keberhasilan hilirisasi nikel belum otomatis menjadikan Indonesia unggul dalam industri EV apabila masih bergantung pada energi berbasis batu bara.

Ia menegaskan bahwa dekarbonisasi rantai pasok, pengurangan penggunaan PLTU captive, serta penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) menjadi faktor penting untuk meningkatkan daya saing industri nasional di pasar global.

Sementara itu, Ketua Kadin Morowali Utara Ince Mochamad Arief Ibrahim menekankan bahwa dekarbonisasi bukanlah penghambat hilirisasi, melainkan syarat utama agar produk nikel Indonesia tetap relevan dan kompetitif.

Ia memperkenalkan konsep Green Nickel yang menempatkan keberlanjutan sebagai bagian dari seluruh rantai pasok industri, mulai dari kegiatan pertambangan hingga pengelolaan limbah dan daur ulang baterai.

Dekan FISIP Universitas Hasanuddin, Prof Dr Sukri mengulas isu dekarbonisasi dari perspektif kebijakan publik. Ia menjelaskan bahwa pembangunan berkelanjutan selalu dihadapkan pada trilema antara kemanfaatan ekonomi, keamanan lingkungan, dan keberlanjutan jangka panjang.

Menurutnya, keberhasilan dekarbonisasi tidak hanya ditentukan oleh teknologi dan investasi, tetapi juga oleh kemampuan menempatkan negara, masyarakat, dunia usaha, dan lingkungan dalam posisi yang setara dalam proses pengambilan keputusan.



Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Unhas-CSIS bahas dekarbonisasi industri baterai kendaraan listrik



Pewarta :
Editor: Daniel
COPYRIGHT © ANTARA 2026