Logo Header Antaranews Makassar

Situs Kerajaan Tallo di Makassar dijadikan destinasi wisata budaya

Selasa, 30 Juni 2026 00:43 WIB
Image Print
Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin saat menerima para pemangku adat kerajaan Tallo, Gowa dan Toraja di Makassar, Senin (29/06/2026). ANTARA/HO-Humas Pemkot Makassar

Makassar (ANTARA) - Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin berkomitmen menghidupkan situs kebudayaan Kota Makassar khususnya jejak sejarah Kerajaan Tallo menjadi destinasi wisata budaya yang merupakan bagian dari identitas Kota Makassar.

Munafri mengatakan ingin budaya Kota Makassar tidak hanya sebatas menjaga cerita sejarah, tetapi juga menghadirkan bukti nyata yang dapat dinikmati masyarakat dan wisatawan.

"Jangan sampai budaya Kerajaan Tallo hilang di Kota Makassar. Selama ini hanya disebut dalam cerita, tetapi wujudnya belum benar-benar hadir sebagai ruang budaya yang hidup," ujar dia saat menerima audiensi para pemangku adat Kerajaan Tallo, Gowa dan Toraja di Makassar, Senin.

Komitmen itu, kata Munafri, telah disampaikan kepada Menteri Kebudayaan RI, yakni pentingnya pembentukan lembaga independen yang dapat menyelesaikan sengketa kelembagaan kerajaan di Indonesia, termasuk Makassar.

Menurut dia, konflik internal yang berkepanjangan sering kali membuat pemerintah kesulitan melibatkan unsur kerajaan dalam berbagai program pariwisata dan pelestarian budaya.

"Kalau terus terjadi perselisihan, pemerintah tentu sulit terlibat karena harus menjaga netralitas. Karena itu saya mengusulkan adanya lembaga independen yang dapat memastikan legalitas kelembagaan adat sehingga pemerintah memiliki dasar yang jelas untuk bersinergi," katanya menjelaskan.

Lebih jauh, Munafri mengatakan bahwa Kerajaan Tallo memiliki posisi strategis dalam sejarah Kota Makassar. Bersama Kerajaan Gowa, Tallo dikenal sebagai "Kerajaan Kembar" dengan filosofi "dua raja satu rakyat".

Sistem kepemimpinan yang dulu menjadi fondasi perkembangan Makassar sebagai pusat perdagangan dan peradaban di kawasan timur Nusantara.

Menurut Munafri, sejarah besar tersebut perlu diwujudkan dalam bentuk kawasan budaya yang dapat menjadi pusat edukasi sekaligus destinasi wisata sejarah.

Karena itu, ia menyampaikan rencananya merevitalisasi kawasan situs Kerajaan Tallo, termasuk pembangunan Balla Lompoa sebagai ruang budaya yang hidup.

Ia berharap, kawasan tersebut nantinya diharapkan hadir berbagai aktivitas pelestarian budaya. Mulai dari pertunjukan tari tradisional, hingga kegiatan menenun.

Termasuk ruang bercerita mengenai perjalanan Kerajaan Tallo, sejarah lahirnya Kota Makassar, serta peran kerajaan sebagai pusat perdagangan maritim pada masanya.

"Kalau orang datang ke Makassar mencari sejarah Kerajaan Tallo, mereka tidak boleh lagi harus ke Gowa untuk mendapatkan ceritanya. Kita ingin menghadirkan ruang budaya yang benar-benar merepresentasikan sejarah Tallo di Kota Makassar," katanya.

Meski demikian, ia menegaskan langkah pertama yang harus dilakukan adalah membangun konsolidasi bersama seluruh unsur adat agar lahir satu kepemimpinan kelembagaan yang kuat.



Pewarta :
Editor: Daniel
COPYRIGHT © ANTARA 2026