
Inovasi digital, BBKSDA Sulsel luncurkan "PINISI" layanan konservasi berbasis AI

Makassar (ANTARA) - Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sulawesi Selatan (Sulsel) meluncurkan layanan konservasi PINISI yakni Pusat Integrasi Networking Informasi Satu Data berbasis Artificial Intelligence sebagai inovasi digital untuk mempercepat pelayanan publik.
"Selain itu juga sekaligus memperkuat perlindungan kawasan konservasi dan satwa liar cukup dengan menggunakan SMS atau WhatsApp (WA)," kata Kepala Balai BKSDA Sulsel Hasnawir pada peluncuran layanan tersebut di Makassar, Rabu.
Dia mengatakan kehadiran PINISI menjadi langkah strategis BBKSDA Sulsel dalam menjawab tantangan pengelolaan kawasan konservasi yang semakin kompleks.
Selain memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), sistem ini juga dirancang agar pelayanan kepada masyarakat menjadi lebih cepat, efisien, transparan, dan mudah diakses.
Saat ini, kata dia, BBKSDA Sulsel mengelola kawasan konservasi seluas sekitar 389.251 hektare yang tersebar di Provinsi Sulsel dan Sulbar.
Menurut dia, yang menjadi tantangan dewasa ini adalah kawasan tersebut terus menghadapi berbagai ancaman, mulai dari perambahan hutan, penguasaan lahan secara ilegal, pembalakan liar, kebakaran hutan, hingga perburuan satwa.
Sementara itu, kata dia, posisi Sulsel sebagai pintu gerbang Kawasan Timur Indonesia juga membuat wilayah ini rawan menjadi jalur perdagangan ilegal tumbuhan dan satwa liar.
Kondisi tersebut mendorong BBKSDA Sulsel untuk terus memperkuat pengawasan sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan konservasi.
Melalui PINISI, kata Hasnawir, masyarakat kini dapat mengakses berbagai layanan konservasi secara digital, di antaranya pengurusan Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi (SIMAKSI), Surat Angkut Tumbuhan dan Satwa Dalam Negeri (SATS-DN), pelaporan penangkaran tumbuhan dan satwa, hingga layanan pengaduan masyarakat dan informasi konservasi.
Peluncuran dan sosialisasi PINISI dihadiri berbagai pemangku kepentingan, mulai dari UPT Kementerian Kehutanan di Sulawesi, Maluku, dan Papua, Dinas Kehutanan Provinsi Sulsel, Balai Besar Karantina Sulsel, Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin, pelaku usaha, hingga mitra konservasi yang mengikuti kegiatan secara luring maupun daring.

Pewarta : Suriani Mappong
Editor: Daniel
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
