Logo Header Antaranews Makassar

Unhas perkuat riset kolaboratif Indonesia-Australia lewat PAIR Sulawesi

Selasa, 21 Juli 2026 14:59 WIB
Image Print
Rektor Universitas Hasanuddin (Unhas) Prof Dr Jamaludin Jompa (tengah) di dampingi Dirjen Riset dan Pengembangan Kemendiktisaintek Dr Fauzan Adziman dan AIC Executive Director Boyd Whalan (kiri) serta Konjen Australia untuk Indonesia Todd Dias dan Direktur LPDP Dr Ayomi Widipaminto (kanan) di sela PAIR Annual Meeting 2026 di Makassar, Selasa (21/7/2026). ANTARA/ Suriani Mappong

Makassar (ANTARA) - Universitas Hasanuddin (Unhas) terus memperkuat riset berbasis kolaborasi melalui Program Partnership for Australia-Indonesia Research (PAIR) Sulawesi yang diarahkan untuk menghasilkan rekomendasi kebijakan, sekaligus menjawab berbagai tantangan pembangunan berkelanjutan di kawasan timur Indonesia.

"Hasil riset tidak semata-mata diukur dari nilai ekonomi, tetapi dari dampaknya dalam mengubah cara berpikir, perilaku, serta memberikan solusi bagi persoalan masyarakat di masa depan," kata Rektor Unhas Prof Jamaluddin Jompa (JJ) pada pertemuan para peneliti Australia-Indonesia di Makassar, Selasa.

Menurut dia, setiap penelitian harus memiliki keterhubungan lintas disiplin ilmu dan menghasilkan rekomendasi yang dapat dimanfaatkan pemerintah. Unhas bahkan memiliki divisi khusus yang menyusun policy brief sebagai bahan masukan bagi penyusunan kebijakan, termasuk rekomendasi untuk pemerintah daerah.

"Riset harus kembali kepada masyarakat. Hasilnya tidak berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi menjadi dasar penyusunan kebijakan yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat," katanya.

Sementara itu Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) Fauzan Adziman menjelaskan Program PAIR Sulawesi yang diinisiasi Pemerintah Australia dan Indonesia lewat perguruan tinggi di dua negara ini telah dibangun melalui kemitraan yang erat dengan pemerintah daerah sejak tahap penyusunan proposal penelitian.

Ia mengatakan pelaksanaan program periode 2024–2027 merupakan kelanjutan dari kerja sama sebelumnya pada 2019–2023, dengan fokus menghasilkan rekomendasi perencanaan wilayah di Sulawesi. Sejumlah hasil riset telah mendukung penyusunan peta jalan kemaritiman, pengembangan sektor perikanan, hingga berbagai kebijakan pembangunan daerah.

Fauzan menegaskan keterlibatan perguruan tinggi lokal menjadi kunci keberlanjutan program. Unhas berperan sebagai hub riset di Sulawesi, sementara perguruan tinggi mitra, misalnya Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) di Sulawesi Utara akan memperkuat implementasi teknis di lapangan.

Selain itu mahasiswa juga dilibatkan sebagai agen perubahan melalui Program Mahasiswa Berdampak agar manfaat riset dapat terus berlanjut di daerah.

Meski menghadapi keterbatasan anggaran, PAIR Sulawesi tetap mengembangkan sejumlah tema strategis, antara lain pemberdayaan kawasan pesisir melalui pengembangan komoditas lokal seperti rumput laut dengan pendekatan ekonomi sirkular, transisi energi menuju kawasan pertambangan hijau, serta optimalisasi pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), khususnya di wilayah kepulauan.

Program tersebut juga mencakup pengembangan sistem peringatan dini bencana, riset perubahan iklim dan kesehatan (climate and health), penguatan tata kelola air tanah di kawasan pesisir, hingga pengembangan pariwisata alam yang inklusif dan ramah bagi penyandang disabilitas.

Prof JJ menambahkan kekayaan biodiversitas Sulawesi menjadi salah satu kekuatan utama yang akan terus dikembangkan melalui riset kolaboratif.

Ia optimistis model kerja sama PAIR Sulawesi dapat diperluas ke wilayah lain di kawasan timur Indonesia, seperti Maluku, Papua, dan Nusa Tenggara, sehingga mampu mendukung perbaikan lingkungan sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat.

Pada kesempatan yang sama, Konsul Jenderal (Konjen) Australia di Makassar Todd Dias menyampaikan dukungan Pemerintah Australia terhadap pengembangan riset, khususnya di bidang perubahan iklim dan kesehatan. Melalui program tersebut sekitar 350 mahasiswa telah mendapatkan pelatihan terkait isu perubahan iklim sebagai bagian dari penguatan kapasitas sumber daya manusia di Indonesia Timur.

Kolaborasi yang turut melibatkan dukungan LPDP tersebut diharapkan semakin memperkuat ekosistem riset nasional sehingga hasil penelitian dapat memberikan dampak nyata bagi pembangunan berkelanjutan di kawasan timur Indonesia.

Dirjen Riset dan Pengembangan Kemendiktisaintek Dr Fauzan Adziman pada pembukaan PAIR Annual Meeting 2026 di Hotel Unhas, Makassar, Selasa (21/7/2026). ANTARA/ Suriani Mappong



Pewarta :
Editor: Daniel
COPYRIGHT © ANTARA 2026