
UMI dan MUI kolaborasi membangun ekosistem kesehatan syariah

Makassar (ANTARA) - UMI dan LAKK Majelis Ulama Indonesia (MUI) berkolaborasi membangun ekosistem kesehatan syariah yang terintegrasi, mulai dari pendidikan, riset, inovasi, sertifikasi kompetensi, hingga pelayanan kesehatan berbasis nilai-nilai Islam.
Rektor Universitas Muslim Indonesia (UMI) Prof Hambali Thalib di Makassar, Senin, mengatakan kesehatan syariah merupakan ruang kolaborasi strategis yang mempertemukan ilmu pengetahuan, pelayanan kesehatan, dan nilai-nilai Islam untuk menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
“Kesehatan syariah harus menjadi kontribusi nyata Indonesia untuk umat. Perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk melahirkan ilmu pengetahuan, inovasi, dan layanan kesehatan yang unggul, beretika, serta berorientasi pada kemaslahatan," ujarnya.
"Melalui kolaborasi dengan LAKK MUI, kami berharap UMI dapat mengambil peran strategis dalam menghadirkan ekosistem kesehatan syariah yang memberi manfaat, tidak hanya bagi Indonesia, tetapi juga bagi dunia Islam,” lanjut Prof Hambali.
Ia menambahkan, penguatan kemitraan tersebut merupakan bagian dari implementasi Catur Dharma UMI, yang mengintegrasikan Pendidikan dan Pengajaran, Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, serta Komitmen Ke-UMI-an dan Pendidikan Karakter sebagai fondasi pengembangan ilmu yang berdampak.
Wakil Rektor V UMI Setyawati Yani menjelaskan, salah satu agenda utama kerja sama adalah pembentukan Pusat Studi Kesehatan Syariah UMI sebagai pusat pengembangan pendidikan, riset, pelatihan, inovasi, dan kolaborasi nasional.
“UMI telah mengembangkan berbagai kajian kesehatan Islam, termasuk Prophetic Medicine (Thibbun Nabawi). Bersama LAKK MUI, kami ingin mengintegrasikan kekuatan akademik, riset, dan pengabdian dalam satu ekosistem yang mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” jelasnya.
Sementara itu, Dekan Fakultas Kedokteran UMI, Dr dr Nasrudin, mengatakan fondasi pengembangan kesehatan syariah di UMI telah dibangun sejak tahun 2012 melalui berbagai riset Prophetic Medicine (Thibbun Nabawi).
Sejumlah penelitian mengenai pemanfaatan bahan alam, seperti minyak zaitun dan jintan hitam, telah memperoleh pengakuan pada berbagai forum ilmiah internasional di Abu Dhabi, Arab Saudi, dan Malaysia, serta mendapat apresiasi dari Federation of Islamic Medical Associations (FIMA).
Menurut dia, pengembangan tersebut diperkuat oleh keberadaan Academic Health Center (AHC) UMI yang mengintegrasikan Fakultas Kedokteran, Fakultas Kedokteran Gigi, Fakultas Farmasi, Fakultas Kesehatan Masyarakat, rumah sakit pendidikan, serta jejaring puluhan puskesmas mitra dan wahana pendidikan klinik.
Sementara Ketua Lembaga Advokasi dan Koordinasi Kesehatan (LAKK) MUI, Bayu Wahyudi, menilai UMI memiliki kekuatan akademik dan ekosistem yang lengkap untuk menjadi salah satu pusat pengembangan kesehatan syariah di Indonesia.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: UMI dan MUI kolaborasi bangun ekosistem kesehatan syariah
Pewarta : Abdul Kadir
Editor: Daniel
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
