
Sulbar percepat hilirisasi produk unggulan

Mamuju (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat mempercepat strategi hilirisasi kakao dan kopi, agar kedua produk unggulan daerah itu tidak lagi hanya dijual sebagai bahan baku, melainkan menjadi produk bernilai tinggi yang mampu menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
"Sulbar memiliki potensi besar sebagai daerah penghasil kakao dan kopi. Namun, besarnya produksi dua komoditas unggulan tersebut belum sepenuhnya memberikan nilai tambah bagi petani dan perekonomian daerah," kata Kepala Bapperida Sulbar Amujib, di Mamuju, Rabu.
Amujib menyampaikan, Sulbar memiliki modal besar untuk mengembangkan ekonomi berbasis komoditas unggulan.
Pada 2025, produksi kakao Sulbar mencapai 66,1 ribu ton dari luas areal 140,9 ribu hektare, sedangkan produksi kopi mencapai 5,2 ribu ton dari lahan seluas 17,1 ribu hektare.
Sektor pertanian juga masih menjadi penopang utama ekonomi daerah dengan kontribusi sekitar 47,73 persen terhadap struktur perekonomian Sulbar sementara pertumbuhan ekonomi daerah mencapai 5,36 persen.
Meski demikian, Amujib menilai tingginya produksi belum otomatis meningkatkan kesejahteraan petani.
Tantangan utama saat ini menurut Amujib, adalah mengubah keunggulan komparatif menjadi keunggulan kompetitif melalui hilirisasi, inovasi dan penguatan rantai nilai.
"Kita tidak cukup hanya meningkatkan produksi kakao dan kopi. Tantangan kita adalah bagaimana mengubah produksi tersebut menjadi produktivitas, nilai tambah industri, investasi, kesempatan kerja, peningkatan pendapatan petani, dan pada akhirnya kesejahteraan masyarakat Sulbar," jelas Amujib.
Ia menjelaskan, arah kebijakan tersebut sejalan dengan visi Gubernur Sulbar melalui Panca Daya yang menempatkan hilirisasi sebagai salah satu strategi utama pembangunan ekonomi daerah.
Melalui Panca Daya, pemerintah mendorong pengembangan industri pengolahan kakao dan kopi agar mampu menghasilkan produk bernilai tambah, memperluas akses pasar, serta meningkatkan daya saing produk lokal di tingkat nasional maupun global.
Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi juga diharapkan berdampak langsung terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui bertambahnya pendapatan petani, berkembangnya UMKM, terbukanya lapangan kerja baru dan percepatan pengentasan kemiskinan.
Bapperida kata dia, juga menilai transformasi tersebut membutuhkan dukungan sumber daya manusia yang unggul.
"Karena itu, peningkatan kapasitas petani, pelaku usaha, tenaga pengolah hasil, hingga generasi muda menjadi bagian penting dalam membangun industri kakao dan kopi yang berkelanjutan," katanya.
Selain penguatan SDM, pembangunan infrastruktur produksi, fasilitas pascapanen, logistik, konektivitas digital, hingga industri pengolahan dinilai menjadi faktor pendukung agar rantai nilai kakao dan kopi terus berkembang.
Amujib menambahkan, kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, lembaga riset dan dunia usaha, menjadi fondasi penting dalam mendorong inovasi sekaligus mempercepat implementasi hasil kajian ke dalam program pembangunan dan investasi daerah.
"Kita tidak ingin selamanya dikenal sebagai daerah penghasil bahan baku, tetapi menjadi daerah yang menghasilkan nilai tambah, melahirkan industri, inovasi dan wirausaha baru, sehingga petani memperoleh manfaat ekonomi yang semakin besar," kata Amujib.
Pewarta : Amirullah
Editor: Riski Maruto
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
