Logo Header Antaranews Makassar

Unhas dan Apindo berkolaborasi perkuat talenta optimalkan bonus demografi

Senin, 3 Agustus 2026 18:48 WIB
Image Print
Rektor Unhas Prof Jamaluddin Jompa dan Ketua Apindo Shinta Widjaja berfoto bersama sesuai kuliah umum di Unhas Makassar, Senin (3/8/2026). ANTARA/HO-Unhas

Makassar (ANTARA) - Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar dan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) berkolaborasi memperkuat talenta atau kemampuan mahasiswa guna mengoptimalkan bonus demografi.

Ketua Umum Apindo Shinta Widjaja Kamdani di Makassar, Senin, mengatakan ketidakpastian ekonomi global telah membawa dampak nyata terhadap dunia usaha, mulai dari meningkatnya biaya produksi, melemahnya daya beli masyarakat, hingga pelambatan investasi dan penciptaan lapangan kerja.

Kondisi tersebut menjadi tantangan yang harus dipahami generasi muda karena akan mempengaruhi arah pembangunan ekonomi, peluang kerja, dan daya saing Indonesia di masa mendatang.

Di sisi lain, Indonesia memiliki modal besar berupa bonus demografi yang didominasi oleh generasi muda. Namun, bonus tersebut tidak secara otomatis menjadi keuntungan ekonomi apabila tidak diimbangi dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Tantangan seperti kesenjangan keterampilan, rendahnya produktivitas tenaga kerja, serta belum optimalnya kesesuaian antara kompetensi lulusan dengan kebutuhan industri menjadi pekerjaan bersama yang harus segera diatasi

"Masa depan Indonesia tidak ditentukan oleh kekayaan sumber daya alamnya, tetapi oleh kualitas manusianya," ujarnya.

"Oleh karena itu, kita harus membangun generasi yang memiliki keterampilan masa depan, mampu beradaptasi terhadap perubahan, serta memiliki keberanian menjadi entrepreneur dan pencipta lapangan kerja," kata Shinta.

Menurut dia, perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan artifisial (AI), akan mengubah kebutuhan kompetensi di dunia kerja.

Oleh karena itu, generasi muda perlu membekali diri dengan keterampilan masa depan melalui proses upskilling dan reskilling, sekaligus mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, adaptasi, kepemimpinan, dan pemecahan masalah agar tetap relevan di tengah transformasi industri.

Shinta menyebutkan, kewirausahaan dipandang sebagai salah satu solusi strategis dalam menghadapi tantangan tersebut.

"Indonesia memiliki ekosistem UMKM dan startup yang terus berkembang, namun masih membutuhkan lebih banyak wirausahawan yang mampu menciptakan inovasi dan membuka lapangan kerja," ujarnya.

Untuk mewujudkan hal tersebut, diperlukan dukungan berupa akses pembiayaan, penguatan kapasitas, regulasi yang kondusif, serta kolaborasi lintas sektor agar potensi generasi muda dapat berkembang secara optimal

"Indonesia tidak kekurangan talenta, tetapi membutuhkan ekosistem kolaborasi yang mampu mengubah talenta menjadi entrepreneur, inovator, dan pencipta lapangan kerja,” kata Shinta.

Sementara itu, Rektor Unhas Prof Dr Jamaluddin Jompa (JJ) menyampaikan bahwa tantangan global harus dijawab melalui transformasi pendidikan tinggi yang lebih adaptif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kebutuhan dunia usaha.

Menurutnya, lulusan masa depan dituntut memiliki kemampuan berpikir kritis, kreativitas, daya analitis, serta kecakapan menyelesaikan persoalan kompleks yang tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh teknologi.

Masifnya perkembangan AI, transisi menuju green economy, dan perang talenta merupakan tiga megatrend yang sedang membentuk masa depan.

"Oleh karena itu, perguruan tinggi harus mempersiapkan generasi yang tidak hanya adaptif terhadap perubahan, tetapi juga mampu menjadi penggerak inovasi dan kewirausahaan,” kata Prof JJ.



Pewarta :
Editor: Daniel
COPYRIGHT © ANTARA 2026