
Peternak di Sulsel bagikan telur ayam buntut kenaikan pakan

Makassar (ANTARA) - Sejumlah peternak dari berbagai daerah tergabung dalam Peternak Rakyat Sulawesi membagi-bagikan ayam dan telur sebagai bentuk protes merespons kenaikan harga pakan ternak yang tidak selaras dengan harga jual telur ayam maupun ayam potong di Makassar, Sulawesi Selatan, Senin.
"Harga telur pada tingkat peternak antara Rp20 ribu sampai Rp21 ribu per kilogram atau sekitar Rp38 ribu sampai Rp40 ribu per rak. Harga ini jauh di bawah Harga Acuan Penjualan atau HAP Rp26.500 per kilogram," ujar Penanggungjawab aksi Peternak Rakyat Sulawesi Basuki Sayuti di Makassar.
Menurut dia, bila dihitung selisih harga jual dengan biaya produksi dari peternak, per hari kerugian diperkirakan antara Rp3.000-Rp4.000 selama empat bulan terakhir. Hal ini dipicu kenaikan harga pakan sejak Mei 2026. Harga pakan naik antara Rp9.000 - Rp9.500 per kilogram dari sebelumnya Rp8.000 per kilogram.
Begitu pula pakan campuran yang biasa digunakan peternak naik di kisaran Rp7.500 per kilogram dari sebelumnya Rp6.000-Rp6.500 per kilogram. Di sisi lain, skema baru kebijakan impor bahan baku pangan dinilai belum mendukung kesiapan logistiknya, karena keterbatasan pasokan di pasaran.
Melalui pernyataan sikapnya meminta Pemprov maupun DPRD Sulsel segera bertindak cepat mencari solusi terbaik, seperti menurunkan harga pakan demi menekan biaya produksi, ketersediaan pakan seperti jagung sesuai dengan HAP dan terjangkau, guna mengantisipasi ancaman El Nino agar harga tidak melonjak seperti pada 2023.
Menaikkan serta menstabilkan harga telur sesuai HAP demi menjaga agar peternak tetap mensuplai protein masyarakat tanpa harus rugi. Stabilisasi pasokan dan mengontrol distribusi, harga Day Old Chick (DOC) agar memiliki tolak ukur yang jelas di pasaran.
Penegakan Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) agar 98 persen porsi peternakan dipegang oleh peternak rakyat dan maksimal 2 persen oleh perusahaan integrator besar. Mendorong pembentukan kementerian khusus agar pemerintah segera mengambil solusi taktis dan fokus menangani kompleksitas permasalahan peternak.
Menghapus dugaan monopoli kuota impor bahan pakan pada penunjukan atau alokasi khusus impor seperti skema 60 persen BUMN dan 40 persen trader pada bahan pakan seperti bungkil kedelai, dan mengembalikan mekanisme impor sesuai kebutuhan pasar.
Merespons hal tersebut, Sekretaris Komisi B DPRD Sulsel Zulfikar Limolang saat menerima aspirasi mereka menyampaikan apresiasi, ada cara unik aksi dilakukan dengan membagi-bagikan telur maupun ayam kepada pengguna jalan yang memberi manfaat.
"Kami mengapresiasi aksi dilakukan peternak se-Sulsel ini. Untuk itu, kami siap menindaklanjuti dengan segera mengagendakan melalui rapat dengar pendapat (RDP) dengan Dinas Peternakan, Dinas Perindustrian dan Perdagangan. Tadi sempat disinggung soal stok jagung, nanti kita panggil juga Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan," paparnya di Kantor sementara DPRD Sulsel, Jalan Andi Pangeran Pettarani.
Mengenai dengan persoalan harga pakan, ketersediaan dan harga DOC maupun anjloknya harga telur, kata Zulfikar akan diketahui permasalahannya setelah dilaksanakan RDP. Sedangkan untuk persoalan impor pakan, itu merupakan kebijakan pemerintah pusat, dan nanti DPRD Sulsel meneruskan masalah ini ke Komisi IV DPR RI maupun di Kementerian Pertanian.
Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Ishaq Iskandar, dan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Sulsel saat menerima aspirasi di Kantor Gubernur Sulsel, Jalan Urip Sumoharjo menyatakan, pihaknya telah menerima aspirasi dari perwakilan peternak Sulsel agar harga telur naik dan harga pakan turun.
"Intinya, mereka terganggu dengan kenaikan harga pakan, sementara harga telur turun dan juga ayam. Aspirasi ini akan ditindaklanjuti termasuk dengan merespons kebijakan yang menjadi kewenangan pemerintah pusat," katanya merespons.
Pewarta : M Darwin Fatir
Editor: Riski Maruto
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
