
Polisi kawal aksi mahasiswa Papua di Makassar

Makassar (ANTARA) - Aparat Kepolisian mengawal aksi mahasiswa Papua yang tergabung dalam Komite Nasional Papua Barat (KNPB) saat berunjuk rasa di Jalan Sultan Alauddin, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Sabtu.
"Tadi, ada memang (pengawalan) adik-adik mahasiswa Papua untuk unjuk rasa di Kementerian HAM, terus mereka berjalan kaki dari asramanya," ujar Kapolrestabes Makassar Kombes Pol Arya Perdana saat memantau di Kantor Kanwil Kemenham Sulsel di Makassar, Sabtu.
Terkait aksi mereka dihadang warga, lalu terjadi kericuhan saling lempar batu saat berjalan kaki menuju Kantor Kanwil Kemenham, Jalan Sultan Alauddin yang vidoenya viral di media sosial, kata Kapolres, ada kesalahpahaman dan sudah diredam.
"Memang ada penolakan dari sebagian masyarakat, sehingga mereka bertemu di jalan dan berselisih paham, itu sebentar saja. Lalu diamankan oleh anggota kami dan bisa melanjutkan perjalanan (Kantor Kemenham), itu sudah selesai," tuturnya.
Dari dampak kericuhan tersebut hingga terjadi gesekan dugaan pemicunya, kata dia, ada kesalahpahaman dan tidak ada yang terluka. Pengawalan dilaksanakan sejak mereka keluar dari asramanya menuju Kantor Kanwil Kementerian HAM.
"Unjuk rasa ini mereka melakukan aksi dengan damai, berjalan dengan baik. Jadi, kita amankan. Tidak ada juga yang mengibarkan bendera (Bintang Kejora) yang menunjukkan upaya untuk memerdekakan diri dan segala macamnya," ucap dia.
Mantan Kapolres Metro Depok ini menyampaikan telah memberitahu peserta aksi tersebut agar menyampaikan aspirasinya secara damai, serta tidak menimbulkan hal-hal yang dianggap mengganggu stabilitas keamanan.
"Kita tetap memberitahukan kepada mereka supaya tetap kondusif dalam memberikan pendapat-pendapatnya. Setelah itu, mereka kembali ke asrama dengan berjalan kaki, kita kawal sampai selamat ke asramanya kembali," kata Arya menambahkan.
Dari rekaman video viral, terlihat aktivis mahasiswa asal Papua ini terlibat saling serang dengan lemparan batu dengan sejumlah kelompok ormas juga warga di Jalan Sultan Alauddin.
Mereka juga terlihat membawa simbol-simbol dan bendera berwarna merah, berlambang satu bintang berwarna putih, serta bendera bergaris biru dan gambar bintang satu.
Dugaan pemicunya saat aksi berjalan kaki di jalan tersebut, mereka memblokir sebagian ruas jalan, membawa bendera lain, dan tidak terlihat ada bendera negara merah putih. Sontak hal ini memicu reaksi warga dan ormas untuk membubarkan aksi mereka.
Aksi tersebut membawa isu terkait zona darurat militer dan krisis kemanusiaan serta isu lainnya di Papua yang akan disampaikan ke Kantor Kemenham Sulsel.
Kordinator Lapangan Aksi Niswan Wanimbo menyebut, kericuhan itu terjadi diduga ada provokasi dari ormas tertentu yang menyerangnya dengan batu saat berjalan menuju Kantor Kanwil Kementerian HAM.
"Tadi terjadi bentrok, karena ada diduga ormas memprovokasi warga sehingga mengganggu aksi dengan melempari kami batu. Aspirasi tetap kami sampaikan di Kantor Kamenterian HAM dan di kawal polisi," katanya.
Pewarta : M Darwin Fatir
Editor: Riski Maruto
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
