Logo Header Antaranews Makassar

Jelajah Sampah kumpulkan 1,5 ton sampah di Makassar

Minggu, 16 Agustus 2026 21:02 WIB
Image Print
Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin saat menutup rangkaian dari program Jelajah Sampah Makassar yang dilaksanakan di Kecamatan Tamalanrea Makassar, Minggu (16/8/2026). ANTARA/HO-Pemkot Makassar

Makassar (ANTARA) - Program Jelajah Sampah yang digagas Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Makassar berhasil mengumpulkan 1,5 ton sampah di 14 kecamatan sejak akhir 30 Juni hingga 16 Agustus 2026.

Kepala DLH Kota Makassar, Helmy Budiman di Makassar, Minggu, mengatakan Jelajah Sampah di Kecamatan Tamalanrea merupakan titik terakhir dari rangkaian sosialisasi pemilahan sampah dan edukasi kebersihan lingkungan yang telah dilakukan di 14 kecamatan.

"Jelajah Sampah Kota Makassar ini sifatnya edukasi dan kolaboratif. Kegiatannya melibatkan banyak pihak, mulai dari kecamatan, kelurahan, RT/RW, sampai seluruh kader posyandu dan kader KB," ujarnya.

Kegiatan di Kecamatan Tamalanrea menjadi titik ke-14 dari rangkaian Jelajah Sampah yang dilaksanakan se-Kota Makassar, sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesadaran, kepedulian, serta partisipasi masyarakat dalam mengurangi dan mengelola sampah sejak dari sumber.

Helmy Budiman mengatakan langkah tersebut menjadi bagian penting dalam penerapan sistem pengelolaan sampah yang tidak lagi berorientasi pada pembuangan seluruh timbulan sampah ke tempat pemrosesan akhir (TPA), melainkan mengutamakan pemilahan, pengolahan, dan pemanfaatan kembali sesuai jenisnya.

Berdasarkan rekapitulasi data dari 14 kecamatan yang telah melaksanakan kegiatan, tercatat total sampah yang terkumpul mencapai 1.506,22 kilogram.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 427,02 kilogram merupakan sampah organik, 514,56 kilogram sampah anorganik, dan 564,64 kilogram berupa residu.

Dia menjelaskan, data tersebut menunjukkan bahwa komposisi sampah yang terkumpul cukup beragam di masing-masing wilayah.

Beberapa kecamatan mencatat timbulan anorganik yang cukup tinggi, sementara di wilayah lainnya sampah residu menjadi komponen terbesar.

Menurut dia, kondisi ini sekaligus menunjukkan pentingnya pemilahan sejak dari sumber agar sampah yang masih dapat dimanfaatkan tidak bercampur dan berakhir sebagai residu.

Kecamatan Mamajang, misalnya, mencatat timbulan sampah sebesar 394,06 kilogram, dengan residu menjadi komponen terbesar yakni 338,4 kilogram.

Sementara Kecamatan Tamalate mencatat total 220,48 kilogram dengan komposisi anorganik mencapai 131 kilogram.

Sedangkan, Kecamatan Ujung Tanah juga mencatat timbulan cukup besar, yakni 196 kilogram, terdiri atas 76,6 kilogram organik, 109,2 kilogram anorganik, dan 10,2 kilogram residu.

Di sisi lain, sejumlah kecamatan telah mengarahkan sampah organik untuk diolah langsung menjadi kompos atau dimanfaatkan melalui fasilitas pengolahan yang tersedia.

"Pengelolaan sampah anorganik juga diarahkan ke Bank Sampah, sehingga hanya residu yang benar-benar tidak dapat dimanfaatkan yang diteruskan kepada DLH untuk penanganan lebih lanjut," terang Helmy.



Pewarta :
Editor: Riski Maruto
COPYRIGHT © ANTARA 2026