Logo Header Antaranews Makassar

Peneliti ini ubah limbah pertanian jadi asap cair dan charcoal

Kamis, 27 Agustus 2026 19:21 WIB
Image Print
Pekerja memberi makan ikan lele di Rejo Farm Sosiopreneur Integrated Farming, Rejodani, Sariharjo, Ngagglik, Sleman, D.I Yogyakarta, Senin (3/8/2026). Integrated farming di Rejo Farm mengintegrasikan peternakan, pertanian dan pengolahan limbah dalam satu sistem yang saling mendukung melalui pemanfaatan kotoran ternak sebagai pupuk organik dan limbah pertanian sebagai pakan ternak atau kompos untuk menekan biaya produksi sekaligus mendukung pertanian yang bekerlanjutan. ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko/agr

Makassar (ANTARA) - Tim Peneliti Universitas Muslim Indonesia (UMI) ubah limbah biomassa dari aktivitas pertanian dan perkebunan menjadi charcoal dan asap cair secara bersamaan melalui teknologi pirolisis.

Guru Besar Fakultas Teknologi Industri (FTI) UMI) Prof Andi Aladin dalam keterangannya di Makassar, Kamis, mengatakan, pirolisis merupakan proses penguraian biomassa melalui pemanasan dalam kondisi oksigen terbatas.

Teknologi tersebut memungkinkan bahan yang sebelumnya dianggap sebagai limbah seperti tempurung, kulit, tongkol, dan sisa tanaman memiliki kandungan karbon dapat dikonversi menjadi produk padat dan cair yang memiliki nilai guna.

“Gagasan utamanya bagaimana satu proses pengolahan dapat menghasilkan lebih dari satu produk yang bermanfaat,” ujarnya terkait inovasi yang didanai Direktorat Penelitian Hilirisasik dan Kemitraan (DHK) dan Kemendiktisaintek itu.

Pakar Energi dan Lingkungan itu menjelaskan, dalam penelitian tersebut, tim mengembangkan reaktor pirolisis simultan berdinding tiga (three-layer) berbahan stainless steel.

“Reaktor dirancang sebagai sistem tertutup sehingga proses pengolahan biomassa dapat menghasilkan charcoal sekaligus menangkap uap pirolisis untuk dikondensasikan menjadi asap cair,” ucapnya.

Ia menjelaskan jika Charcoal yang dihasilkan memiliki nilai kalor sekitar 6.000–7.000 kkal per kilogram. Dengan karakteristik tersebut, charcoal berpotensi dimanfaatkan sebagai sumber energi maupun bahan baku pembuatan briket.

Tidak hanya untuk energi, charcoal juga berpeluang digunakan sebagai bioadsorben dalam pengolahan limbah cair. Penelitian yang dikembangkan tim juga melihat potensi pemanfaatannya sebagai bahan penyaring dan penjernih produk pangan seperti virgin coconut oil (VCO).

Sementara itu, asap cair merupakan hasil kondensasi uap dari proses pirolisis. Produk ini memiliki peluang pemanfaatan, antara lain untuk mendukung sektor pertanian dan dikembangkan sebagai biopestisida yang lebih ramah lingkungan.

Ia menjelaskan jika salah satu perhatian utama penelitian adalah efisiensi energi. Sebab, proses pirolisis membutuhkan suhu relatif tinggi agar biomassa dapat terurai secara optimal.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, reaktor dilengkapi sistem dinding berlapis tiga dengan isolator termal yang dapat dilepas. Sistem ini dirancang untuk mengurangi kehilangan panas ke lingkungan sehingga energi yang dihasilkan dapat dimanfaatkan lebih efektif.

“Menariknya, ruang isolator tersebut juga dirancang agar dapat dimanfaatkan untuk membantu proses pengeringan awal biomassa sebelum memasuki tahapan pirolisis,” ucapnya.

Dalam rancangan teknisnya, reaktor bekerja pada rentang suhu sekitar 300–500 derajat Celsius, dengan waktu pirolisis rata-rata sekitar 2,5 jam. Sistem kondensasi kemudian menangkap uap hasil proses untuk menghasilkan asap cair.

Dari data pengembangan prototype, potensi hasil yang diperoleh mencapai sekitar 37 persen charcoal dan 42 persen asap cair. Data tersebut menjadi bagian dari evaluasi untuk melihat kinerja dan efektivitas prototype yang dikembangkan.

Namun, penelitian ini tidak berhenti pada keberhasilan menghasilkan produk. Prototype juga diarahkan untuk menjalani pengujian lebih menyeluruh, mulai dari kestabilan suhu, performa pada berbagai kondisi operasi, efisiensi energi, keselamatan operator hingga konsistensi mutu charcoal dan asap cair.

“Teknologi baru tidak cukup hanya berhasil dalam satu kali percobaan. Yang penting adalah bagaimana teknologi itu dapat bekerja secara stabil, aman dan konsisten ketika digunakan berulang kali,” jelasnya.



Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Peneliti UMI ubah limbah pertanian jadi asap cair dan charcoal



Pewarta :
Editor: Riski Maruto
COPYRIGHT © ANTARA 2026