Logo Header Antaranews Makassar

Karhutla di Enrekang hanguskan 207 hektare lahan

Rabu, 2 September 2026 07:04 WIB
Image Print
Tangkapan Layar - Petugas gabungan berusaha memadamkan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di kawasan hutan lindung Gunung Lawakan, Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan. ANTARA/HO-BPBD Enrekang/Darwin Fatir.

Makassar (ANTARA) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Enrekang mencatat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sepanjang 2026 telah membakar 207 hektare lahan hutan serta perkebunan milik warga.

"Ada 24 kejadian hingga hari ini, termasuk kebakaran sejak tadi malam di Gunung Lakawan. Sudah seperdua lahan gunungnya terbakar,' ujar Kepala Pelaksana BPBD Enrekang Syamsul Bahri saat dikonfirmasi wartawan, Selasa.

Lahan hutan lindung di Gunung Lakawan, Desa Tanete, Kecamatan Anggareja, kata dia, terbakar sejak kemarin hingga hari ini. Api sudah menjalar ke lahan perkebunan milik warga yang sebagian dikelola menanam bawang merah di gunung setempat.

Sejauh ini pantauan BPBD setempat menyebut titik api masih terlihat membakar vegetasi tumbuhan disertai kepulan asap abu-abu bercampur hitam pekat di sekitar tebing.

Tim pemadam gabungan berupaya memadamkan api, tetapi terkendala akses dan rintangan berat akibat jalan terputus, membuat armada Damkar kesulitan menembus titik api.

"Apalagi, tebing tinggi dan terjal menjadi penghalang memadamkan api dengan jarak dekat," ujarnya.

Ancaman lainnya, material panas bebatuan yang terus berjatuhan dapat membahayakan keselamatan warga maupun petugas.

Di sisi lain, BPBD harus membagi fokus dari dampak kekeringan, krisis air bersih juga sedang melanda Enrekang.

"Sampai hari ini masih terbakar (Gunung Lawakan). Tapi, kita berusaha dan masih berupaya padamkan apinya. Para Camat sudah berada di atas (gunung). Kami juga membagi tugas dan sedang fokus membagi air bersih ke warga karena sedang krisis air," tuturnya.

Tangkapan Layar - Petugas gabungan berusaha memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan hutan lindung Gunung Lawakan, Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan. ANTARA/HO-BPBD Enrekang/Darwin Fatir.

Kendati api masih menyala di sekitar lahan hutan gunung setempat, kata dia, petugas gabungan bersama warga setempat tetap berupaya memadamkan api dengan cara manual, menggunakan alat seadanya guna memutus lajur api agar tidak semakin meluas.

Mengenai penyebab karhutla tersebut, kata Syamsul, belum diketahui pasti dan tidak ingin berspekulasi apakah sengaja dibakar untuk membuka lahan, atau faktor kekeringan di musim kemarau maupun dampak El Nino.

"Tetapi, kebakaran tentu ada sebab, karena tidak serta merta dampaknya musim kemarau. Kalau kita mau menelaah musim kering seperti ini, (rawan terbakar), itu diartikan semua gunung di Enrekang akan terbakar," kata Syamsul.

"Tapi, tentu ini tidak lepas dari pengaruh El Nino, semua lahan kekeringan. Atau penyebab lain mungkin ada orang bersih-bersih, (membakar lahan) maupun buang puntung rokok," tuturnya lagi.

Menurut dia, kejadian karhutla tahun ini lebih tinggi seluas 207 hektare dari tahun lalu pada periode yang sama sekitar 150 hektare lebih. Sedangkan jumlah rumah terbakar dampak karhutla sebanyak lima kasus kejadian.

"Paling parah kebakaran bisa terlihat di depan Gunung Nona; bahkan sudah dekat rumah warga. Kami terus mengimbau atau meminta warga tidak membakar di area terbuka, utamanya warga di sekitar area pegunungan, sebab hembusan angin kencang dapat memicu api membesar," paparnya.



Pewarta :
Editor: Riski Maruto
COPYRIGHT © ANTARA 2026