Logo Header Antaranews Makassar

Menjaga ekonomi Sulsel tetap tumbuh di tengah dinamika ekonomi

Rabu, 2 September 2026 17:22 WIB
Image Print
UMKM yang terus didorong naik kelas jadi salah satu kekuatan penopang pertumbuhan ekonomi di Sulawesi Selatan. ANTARA/Suriani Mappong

Makassar (ANTARA) - Sulawesi Selatan sebagai hub Kawasan Timur Indonesia masih memiliki alasan untuk tetap optimistis di tengah dinamika ekonomi global yang terus berubah bahwa aktivitas ekonomi di daerah ini tetap bergerak positif.

Hal itu ditopang oleh transaksi digital yang tumbuh pesat, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) terus didorong naik kelas, sementara pengendalian inflasi menjadi pekerjaan bersama yang terus digelorakan.

Ini tergambar pada pertumbuhan ekonomi Sulsel triwulan II 2026 yang mengalami perlambatan dari 6,88 persen pada periode sebelumnya menjadi 5,6 persen. Kendati demikian, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan (KPw BI Sulsel) Rizki Ernadi Wimanda tetap optimistis pertumbuhan ekonomi daerahnya akan terus membaik.

Meski ekonomi Sulsel melambat, Rizki menilai capaian tersebut masih menempatkan Sulsel sebagai salah satu kekuatan ekonomi penting di kawasan Sulawesi. Kontribusi Sulsel terhadap perekonomian nasional mencapai sekitar 2,47 persen, sekaligus menjadikan provinsi ini sebagai salah satu penyumbang utama ekonomi Pulau Sulawesi.

Rizki menyebut perekonomian Sulsel masih memiliki ruang untuk tumbuh lebih tinggi. BI Sulsel memperkirakan ekonomi provinsi ini pada 2026 tumbuh pada kisaran 5,4 hingga 6,2 persen. Optimisme itu ditopang stimulus pemerintah, bantuan sosial, penguatan produktivitas pertanian, serta keberlanjutan sejumlah proyek strategis yang berpotensi mendorong investasi.

Namun, di balik optimisme tersebut terdapat sejumlah risiko yang perlu diantisipasi. Salah satunya adalah ancaman El Nino yang dapat mengganggu produktivitas pertanian dan pada akhirnya memengaruhi pasokan serta harga pangan.

Persoalan pangan menjadi perhatian tersendiri. Pada Juli 2026, sejumlah komoditas tercatat memberikan tekanan terhadap inflasi Sulsel. Ikan layang, tomat, minyak goreng dan beras menjadi beberapa komoditas yang perlu mendapat perhatian karena mengalami kenaikan harga.

Ikan layang bahkan mencatat inflasi tahunan sekitar 19,24 persen hingga Juli. Kenaikan harga juga terjadi pada bensin, tomat, perhiasan dan minyak goreng. Kondisi ini menunjukkan bahwa pengendalian inflasi bukan sekadar persoalan suku bunga, tetapi juga menyangkut bagaimana pemerintah menjaga pasokan dan kelancaran distribusi pangan dari sentra produksi hingga konsumen.

“Indonesia tidak hanya mengandalkan naik turunnya suku bunga. Ada Tim Pengendalian Inflasi Pusat maupun daerah,” kata Rizki.

Secara nasional, inflasi Juli 2026 berada pada level 2,88 persen. Inflasi inti mencapai 2,7 persen, sementara inflasi kelompok harga yang diatur pemerintah sekitar 3,5 persen. Di Sulsel, BI melihat perlunya kewaspadaan karena tekanan harga sejumlah komoditas pangan masih berpotensi meningkat.

Karena itu, BI Sulsel mendorong penguatan strategi pengendalian inflasi dari hulu hingga hilir. Di sektor pertanian, langkah yang dinilai penting antara lain percepatan program mandiri benih, perluasan areal tanam, optimalisasi cetak sawah, serta gerakan menanam komoditas pangan strategis seperti cabai dan bawang.

Mitigasi dampak El Nino juga perlu disiapkan melalui pembangunan dan optimalisasi embung, pompa air, sumur bor serta perbaikan jaringan irigasi. Sementara di sisi hilir, pasar murah, gerakan pangan murah dan mini distribution center perlu diperkuat dengan prinsip tepat sasaran, tepat waktu dan tepat lokasi.

Rizki juga mendorong penguatan peran BUMD dan koperasi sebagai "offtaker" hasil produksi petani dan nelayan. Dengan pola tersebut, petani dan nelayan dapat lebih fokus pada produksi, sementara pemasaran dan distribusi ditangani oleh lembaga yang memiliki jaringan pasar.

Bangun rantai pasok

Selain menjaga pangan, BI Sulsel melihat pentingnya membangun rantai pasok yang lebih kuat. Sentra produksi perlu dilengkapi fasilitas pascapanen, pengolahan, laboratorium, sertifikasi dan pengemasan agar komoditas unggulan tidak hanya dijual dalam bentuk bahan mentah, tetapi dapat memiliki nilai tambah yang lebih tinggi.

Potensi tersebut juga terlihat dari perkembangan UMKM Sulsel yang mencapai sekitar 1,5 juta unit. Sebagian besar bergerak di sektor pertanian sekitar 37 persen, disusul perdagangan sekitar 29 persen. Namun, tantangan masih terlihat pada kualitas dan kontinuitas produksi, akses pasar serta pembiayaan.

BI Sulsel kemudian mengambil peran melalui berbagai program pendampingan, mulai dari peningkatan kapasitas, literasi keuangan, digitalisasi transaksi hingga pengembangan UMKM potensial untuk memperoleh pembiayaan. Target akhirnya bukan sekadar membuat UMKM bertahan, tetapi mendorongnya naik kelas hingga mampu menembus pasar ekspor.

Kisah sejumlah UMKM yang berhasil menembus pasar luar negeri menjadi gambaran bahwa pendampingan yang konsisten dapat membuka peluang lebih besar. Program pengembangan UMKM bahkan telah menghasilkan ratusan alumni dan terus diarahkan pada sektor pertanian, perikanan, peternakan, makanan-minuman, fesyen, kerajinan dan jasa.

Salah satu pelaku UMKM yang menjadi binaan BI Sulsel adalah Yane Banna yang menjadi penggiat Wastra. Dia mengatakan adanya binaan BI Sulsel dari segi bantuan pemasaran melalui sejumlah kegiatan pameran, produknya semakin dikenal dan mampu menembus pasar mancanegara.

Sementara itu, di tengah perubahan perilaku masyarakat, transformasi digital juga menjadi warna lain dalam perekonomian Sulsel. Transaksi QRIS mencapai sekitar 28,8 juta transaksi, tumbuh 140 persen secara tahunan, dengan nominal sekitar Rp2,57 triliun atau meningkat 83 persen.

Jumlah pengguna QRIS juga telah mencapai sekitar 1,48 juta, sedangkan merchant mencapai sekitar 1,46 juta. Pertumbuhan tersebut menunjukkan semakin kuatnya ekosistem pembayaran digital sekaligus perubahan pola transaksi masyarakat.

Sebaliknya, transaksi kartu ATM/debit mengalami perlambatan. Volume transaksi turun sekitar 10 persen menjadi 15,18 juta transaksi dengan nominal sekitar Rp22,78 triliun. Perubahan itu menjadi salah satu indikasi bergesernya kebiasaan masyarakat dari transaksi konvensional menuju pembayaran digital.

Digitalisasi juga telah masuk ke pemerintahan. Seluruh 24 kabupaten/kota di Sulsel telah berada pada tahap digitalisasi transaksi pemerintah. Bahkan, Sulsel berhasil meraih peringkat pertama Championship TP2DD tingkat provinsi pada 2024 dan 2025.

Di tengah berbagai perkembangan tersebut, Rizki menekankan bahwa masa depan ekonomi Sulsel sangat bergantung pada kemampuan daerah mengubah potensi menjadi produktivitas. Kakao, kopi, jagung, perikanan dan rumput laut, misalnya, perlu dikembangkan berbasis sentra produksi dan kebutuhan pasar.

Penguatan industri pengolahan menjadi bagian penting dari strategi tersebut. Investasi harus didukung kepastian bahan baku, kemudahan perizinan, utilitas, fasilitas pengolahan bersama, sertifikasi dan sumber daya manusia yang sesuai dengan kebutuhan industri.

Sementara itu, konektivitas juga tidak boleh diabaikan. Jalan, jembatan, pelabuhan, gudang dan sistem logistik yang baik menjadi infrastruktur penting agar produk dari sentra produksi dapat bergerak menuju pasar dengan biaya yang efisien.

Rangkaian strategi tersebut bermuara pada satu tujuan: menjaga ekonomi Sulsel tetap tumbuh sekaligus membuat pertumbuhan itu semakin berkualitas. Pengendalian inflasi, penguatan sektor pangan, digitalisasi, pengembangan UMKM dan ekonomi syariah harus berjalan beriringan.

Bagi Rizki, tantangan ekonomi Sulsel tidak dapat diselesaikan oleh Bank Indonesia sendirian. Pemerintah daerah, pelaku usaha, petani, nelayan, perbankan, BUMD, koperasi hingga masyarakat memiliki peran masing-masing.

Hal itu dibenarkan Ekonom dan Guru Besar Universitas Hasanuddin Prof Dr Marzuki DEA.

Dia mengatakan tantangan dalam menghadapi fluktuasi dan dinamika ekonomi nasional dan global, peran BI di daerah bersama pemerintah daerah setempat sangat penting untuk menggandeng seluruh elemen masyarakat, pengusaha, akademisi dan media bergandengan bersama menekan inflasi dan berjuang meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

Karena itu, lanjut dia, ketika seluruh mata rantai atau elemen tersebut bergerak bersama, pertumbuhan ekonomi bukan hanya tercermin dalam angka statistik. Ia hadir dalam harga pangan yang lebih terjangkau, produk lokal yang semakin bernilai, UMKM yang mampu memperluas pasar, serta masyarakat yang semakin mudah melakukan transaksi dan mengakses pembiayaan.

Di situlah optimisme ekonomi Sulsel menemukan pijakannya: bukan sekadar tumbuh lebih tinggi, tetapi tumbuh lebih kuat, inklusif dan mampu memberikan nilai tambah bagi masyarakat.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan, Rizki Ernadi Wimanda yang mengaku optimistis perekonomian Sulsel terus membaik di tengah dinamika ekonomi global. ANTARA/Suriani Mappong



Pewarta :
Editor: Riski Maruto
COPYRIGHT © ANTARA 2026