
Erupsi Gunung Anak Krakatau diduga sebabkan dentuman

Bandung (ANTARA) - Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda yang kembali mengalami erupsi pada 5 September 2026, sejak pukul 23.07 WIB dan masih berlangsung hingga pukul 04.40 WIB, diduga menyebabkan terdengarnya dentuman oleh masyarakat di tiga provinsi.
Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Lana Saria menyebutkan adanya suara dentuman dan getaran yang dilaporkan masyarakat di Jawa Barat termasuk Bandung Raya, Banten, dan Lampung, diduga berkaitan dengan aktivitas erupsi Gunung Krakatau yang dipantau oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi, berlangsung pada waktu yang sama (23.07-04.40 WIB).
"Erupsi menerus dalam durasi beberapa jam yang berasosiasi dengan erupsi lava air mancur merupakan fenomena yang umum terjadi. Suara dentuman dan getaran yang dirasakan masyarakat diduga kuat berkaitan dengan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau pada waktu yang sama," kata Lana di Bandung, Sabtu.
Menurut Lana, meski jaraknya jauh dari Gunung Anak Krakatau, suara dentuman terdengar hingga Bandung Raya, bisa disebabkan ekspansi cepat pelepasan gas, serta gesekan dan turbulensi aliran lava dengan kecepatan tinggi pada konduit (lubang kepundan).
"Gelombang suara dari Anak Krakatau dapat merambat jauh melalui atmosfer dan akhirnya terdengar di Bandung, meskipun beberapa wilayah pesisir yang lebih dekat belum tentu mendengarnya dengan jelas," katanya.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Erupsi Gunung Anak Krakatau diduga sebabkan dentuman tiga provinsi
Pewarta : Ricky Prayoga
Editor: Riski Maruto
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
