
Waspadai penurunan produksi pertanian di Sulsel

Makassar (ANTARA) - Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan Rizki Ernad Wimanda meminta pemerintah daerah dan pemangku kepentingan mewaspadai penurunan produksi pertanian yang berpotensi mengganggu pasokan pangan dan menekan laju pertumbuhan ekonomi Sulsel pada 2026.
"Sektor pertanian menjadi salah satu perhatian di tengah proyeksi pertumbuhan ekonomi Sulsel yang berada pada kisaran 5,4 hingga 6,2 persen tahun ini," kata Rizki dalam keterangan persnya di Makassar, Senin.
Dia mengatakan kewaspadaan itu diperlukan karena sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian daerah.
Pada kuartal II 2026, ekonomi Sulsel tercatat tumbuh 5,59 persen secara tahunan atau year on year (yoy). Angka tersebut melambat dibandingkan pertumbuhan pada kuartal I 2026 yang mencapai 6,88 persen. Salah satu faktor yang turut mempengaruhi perlambatan tersebut adalah kontraksi pada sektor pertanian akibat penurunan produksi padi.
Menurut BI Sulsel, kondisi tersebut perlu mendapat perhatian karena gangguan produksi pertanian tidak hanya berdampak terhadap pendapatan petani, tetapi juga dapat mempengaruhi ketersediaan pangan dan stabilitas harga di masyarakat.
Risiko tersebut semakin perlu diantisipasi dengan adanya potensi fenomena El Nino. Kondisi cuaca tersebut dikhawatirkan dapat mengganggu produktivitas pertanian dan menekan pasokan sejumlah komoditas pangan, terutama beras.
“El Nino ini membahayakan di pertanian, harga beras kemungkinan akan naik kalau tidak ada intervensi pemerintah melalui Bulog,” ujar Rizki.
BI Sulsel mendorong langkah mitigasi dilakukan sejak dari sisi produksi. Sejumlah dukungan yang dinilai penting antara lain penyediaan embung, pompa air, sumur bor, serta perbaikan jaringan irigasi untuk menjaga produktivitas pertanian ketika terjadi gangguan cuaca.
Selain menjaga produksi, penguatan rantai pasok pangan juga dinilai penting. Upaya tersebut mencakup penyerapan dan penyimpanan hasil pertanian, distribusi antardaerah, hingga penguatan peran badan usaha milik daerah (BUMD) sebagai offtaker bagi hasil produksi petani.
BI juga mendorong perluasan areal tanam serta gerakan menanam komoditas pangan strategis. Langkah tersebut diharapkan dapat menjaga ketersediaan pangan sekaligus mengurangi risiko gejolak harga ketika terjadi penurunan produksi di sentra tertentu.
Kewaspadaan terhadap sektor pertanian menjadi semakin penting karena stabilitas harga pangan berhubungan langsung dengan daya beli masyarakat. Ketika pasokan berkurang dan harga komoditas meningkat, tekanan inflasi dapat kembali muncul dan pada akhirnya mengurangi ruang konsumsi masyarakat.
Baca juga: Makassar mulai krisis air, ini yang dilakukan PemkotBerita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: BI Sulsel: Waspadai penurunan produksi pertanian
Pewarta : Suriani Mappong
Editor: Riski Maruto
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
