
Potensi energi angin Sulsel butuh kajian

Makassar (ANTARA) - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI mengatakan potensi energi angin di Sulawesi Selatan yang memiliki karakteristik berbeda, membutuhkan kajian dari perguruan tinggi, khususnya Universitas Hasanuddin agar dapat memaksimalkannya.
Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Enita Listiani Dewi dalam keterangannya di Makassar, Sabtu, mengatakan kajian tersebut dinilai penting karena karakteristik angin di setiap wilayah berbeda dan berpotensi mendukung pengembangan energi terbarukan serta sistem kelistrikan daerah.
Menurut Prof Enita, karakter angin di wilayah itu juga memiliki keunikan yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung sistem kelistrikan, terutama ketika produksi listrik tenaga air mengalami penurunan pada musim kering.
“Karena karakteristik angin di setiap wilayah berbeda, maka perlu kajian yang spesifik. Keterlibatan perguruan tinggi seperti Unhas penting untuk menghasilkan kajian berbasis data mengenai karakteristik energi terbarukan di masing-masing daerah,” ujarnya.
Berdasarkan proyeksi pengembangan, kapasitas pembangkit listrik tenaga bayu di Indonesia berpotensi mencapai sekitar 1 gigawatt dalam 10 tahun ke depan.
“Saat ini baru 75 megawatt, salah satunya di lokasi ini. Saya dengar akan diekspansi menjadi tambahan 70 megawatt. Semoga bisa segera terealisasi,” katanya.
Wakil Rektor Bidang Inovasi dan Pengelolaan Usaha Unhas, Prof. Dr. Amir Ilyas, mengatakan Sulawesi Selatan memiliki posisi strategis sebagai salah satu wilayah dengan potensi energi hijau terbesar di Indonesia Timur.
Unhas memandang potensi energi terbarukan di Sulawesi Selatan tidak hanya sebagai keunggulan geografis, tetapi juga sebagai laboratorium alam untuk mendorong inovasi sekaligus mempercepat transisi energi nasional.
“Sulawesi Selatan adalah lumbung energi hijau Indonesia Timur. Kita memiliki koridor angin terbaik di PLTB Jeneponto dan Sidrap, intensitas surya yang tinggi sepanjang tahun, serta potensi hidro yang masif,” kata Prof Amir.
Riset Unhas diarahkan pada hilirisasi teknologi tepat guna. Beberapa di antaranya adalah pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Terapung berbasis Internet of Things (IoT), sistem penyimpanan energi baterai atau _Battery Energy Storage System_ (BESS), serta pemanfaatan biomassa dari limbah pertanian lokal.
Direktur Pengelolaan Usaha dan Optimalisasi Aset Unhas Dr M. Yahya Siradjuddin, menambahkan Unhas berkomitmen memperkuat riset dan penyediaan data ilmiah untuk mendukung pengembangan energi terbarukan.
Pewarta : Abdul Kadir
Editor: Riski Maruto
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
