
YKL Indonesia dorong replikasi konservasi Pulau Lanjukang

Makassar (ANTARA) - Yayasan Konservasi Laut (YKL) Indonesia mendorong replikasi pengalaman pengelolaan laut berbasis masyarakat yang diterapkan di Pulau Lanjukang dan Langkai, Kota Makassar, ke sejumlah wilayah pesisir di Sulawesi Selatan, termasuk Kabupaten Pangkep dan Sinjai.
"Pengalaman masyarakat Pulau Lanjukang dalam menerapkan sistem buka tutup wilayah penangkapan gurita menjadi salah satu pembelajaran penting dalam membangun tata kelola sumber daya laut yang melibatkan masyarakat sebagai pelaku utama," kata Direktur Eksekutif YKL Indonesia Nirwan Dessibali di Makassar, Kamis.
Dia mengatakan pengalaman di Lanjukang menunjukkan bahwa masyarakat bisa menjadi bagian penting dari pengelolaan dan konservasi laut ketika mereka dilibatkan sejak awal dan memiliki kesepakatan bersama.
Di Pulau Lanjukang dan Langkai, lanjut dia, masyarakat melalui Forum Pasibuntuluki menerapkan sistem buka tutup area penangkapan gurita. Wilayah tangkap ditutup selama tiga bulan untuk memberikan kesempatan bagi sumber daya laut berkembang, kemudian dibuka kembali secara terbatas bagi nelayan.
Pendekatan tersebut dikembangkan melalui pendampingan YKL Indonesia bersama pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya. Sistem itu juga dilengkapi dengan kesepakatan masyarakat, penandaan wilayah, pengawasan bersama, serta pencatatan hasil tangkapan.
YKL Indonesia mencatat pendekatan pengelolaan berbasis masyarakat tersebut kemudian menjadi pembelajaran untuk dikembangkan di lokasi lain. Salah satunya di Kabupaten Sinjai melalui program pengelolaan perikanan gurita berbasis masyarakat dan data untuk mengurangi tekanan terhadap terumbu karang di calon kawasan konservasi Pulau Sembilan.
Program di Pulau Sembilan mulai dijalankan pada 2026 dengan melibatkan pemerintah daerah, pemerintah desa, kelompok nelayan, perempuan, tokoh masyarakat, akademisi, penyuluh perikanan, aparat keamanan, dan berbagai pemangku kepentingan.
Pada Juni 2026, YKL Indonesia juga melakukan riset aksi partisipatif di Pulau Kambuno dan Pulau Liang-Liang, Kecamatan Pulau Sembilan, dengan menggali pengalaman nelayan, pengepul, kelompok perempuan, pemerintah desa, serta masyarakat untuk memetakan kondisi sosial, ekonomi, dan ekologi perikanan gurita.
Upaya tersebut kemudian dilanjutkan melalui pertemuan multipihak pada Agustus 2026 untuk mendorong terbentuknya forum pengelolaan bersama. Pendekatan ini diarahkan agar pengelolaan perikanan gurita tidak hanya berdasarkan kebijakan dari pemerintah, tetapi juga menggunakan pengetahuan lokal dan data yang diperoleh dari masyarakat nelayan.
Pulau Sembilan merupakan salah satu wilayah yang memiliki ekosistem terumbu karang penting bagi kehidupan masyarakat pesisir. Pemerintah Kabupaten Sinjai menyebut kawasan terumbu karang di wilayah tersebut mencapai sekitar 3.700 hektare dan menjadi salah satu sumber penghidupan nelayan kecil.
"Replikasi bukan berarti menerapkan pola yang sama persis di setiap wilayah, karena masing-masing pulau memiliki karakter ekologi, sosial, ekonomi dan budaya yang berbeda," kata Nirwan.
Dia mengatakan prinsip utamanya adalah membangun kesepakatan masyarakat, menggunakan data, menjaga ekosistem, sekaligus memastikan pengelolaan laut tetap memberikan manfaat bagi nelayan.
Pengalaman Lanjukang sendiri telah berlangsung melalui pendampingan pengelolaan perikanan gurita skala kecil berbasis masyarakat. Sistem buka tutup yang diterapkan masyarakat juga telah mendapat dukungan berbagai pihak dan menjadi bagian dari pembahasan pengelolaan kawasan konservasi daerah.

Pewarta : Suriani Mappong
Editor: Riski Maruto
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
