
Tim Arborist dikerahkan untuk selamatkan ekosistem pohon di Makassar

Makassar (ANTARA) - Pemerintah Kota Makassar melibatkan tim Arborist dalam penataan dan menyelamatkan ekosistem pohon untuk memastikan setiap pohon yang berada di area proyek revitalisasi mendapat penanganan dan perawatan sesuai kondisi serta karakteristiknya.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Makassar, Helmy Budiman di Makassar, Sabtu, mengatakan, pelibatan ahli Arborist dilakukan karena umumnya pohon-pohon yang ada di kota adalah pohon tua dan pohon baru sehingga membutuhkan penanganan yang berbeda-beda.
"Yang pasti, ahli Arborist itu tahu apa yang harus dilakukan. Setiap pohon punya karakteristiknya sendiri karena ada banyak pohon tua dan pohon baru dimana penanganannya pasti itu berbeda. Makanya, ahlinya dilibatkan," ujarnya.
Salah satu perwakilan Arborist yakni Faris menjelaskan, pohon yang nantinya ditanam sebagai pengganti akan dipilih dari jenis yang lebih adaptif, termasuk tanaman yang merupakan pohon natif Indonesia dan memiliki keterkaitan kuat dengan ekosistem maupun budaya Sulawesi.
Menurutnya, penggantian sejumlah pohon, khususnya ketapang kencana di kawasan depan Karebosi, bukan semata-mata karena pohon tersebut berukuran besar.
"Persoalan utamanya adalah kondisi beberapa pohon dan potensi konflik sistem perakaran dengan infrastruktur serta jaringan utilitas yang berada di kawasan pedestrian," kata Faris.
Dia menyebut terdapat pohon yang kondisinya sudah memiliki banyak rongga dan kemiringan sekitar 40 derajat. Kondisi tersebut perlu mendapat perhatian karena berpotensi membahayakan masyarakat yang beraktivitas dan berolahraga di sekitar kawasan Karebosi.
"Pohon tumbang itu tidak pernah bilang, tiba-tiba rubuh saja," ujar Faris saat menjelaskan pentingnya aspek keselamatan dalam penataan pohon.
Ia menjelaskan, persoalan lain yang perlu diperhitungkan adalah karakter akar ketapang kencana yang dapat tumbuh cepat ketika mendapatkan sumber air dan nutrisi dari sistem drainase.
Jika ketapang kencana tetap dipertahankan dengan sistem drainase baru, menurutnya, akar pohon berpotensi tumbuh masuk ke jaringan tersebut. Dalam jangka panjang, kondisi itu dapat menyebabkan drainase tersumbat dan meningkatkan biaya pemeliharaan maupun perbaikan infrastruktur.
"Permasalahannya adalah konflik antara akar ketapang kencana dengan infrastruktur dan utilitas yang ada," jelasnya.
Karena itu, opsi yang didorong bukan menghilangkan fungsi penghijauan, melainkan mengganti jenis pohon dengan tanaman yang lebih sesuai dengan karakter kawasan.
Faris menyebut sejumlah pohon natif Sulawesi yang dapat menjadi pilihan, salah satunya pohon bitti atau Vitex cofassus.
Pohon ini memiliki nilai kultural yang kuat di Sulawesi Selatan dan dikenal sebagai salah satu jenis kayu yang digunakan dalam pembuatan kapal pinisi, termasuk untuk bagian utama kapal.
Pilihan lainnya adalah padiasa atau Kleinhovia hospita, yang juga dikenal memiliki berbagai manfaat bagi masyarakat. Selain itu, terdapat Elaeocarpus atau jenis pohon yang dikenal dengan nama jati tri/jelatri sebagai alternatif vegetasi.
Pewarta : Muh. Hasanuddin
Editor: Riski Maruto
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
