
PPA Sulsel: Kasus kekerasan jadi pengingat

Makassar (ANTARA) - Kepala UPT PPA Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) Yessy Yoanna Ariestiani mengatakan kasus kekerasan yang terungkap harus menjadi pengingat bagi seluruh pihak untuk memperkuat perlindungan anak, termasuk di pesantren dan lembaga pendidikan berasrama.
Yessy Yoanna dalam keterangannya di Makassar, Jumat, mengatakan perhatian terhadap kasus kekerasan yang terjadi tersebut tidak dimaksudkan untuk memberikan stigma terhadap pesantren ataupun lingkungan sekolah lainnya. Sebaliknya, pesantren memiliki peran penting dalam pendidikan agama dan pembentukan karakter.
Menurut dia, karena besarnya kepercayaan masyarakat, lingkungan pendidikan harus memastikan anak yang dititipkan berada dalam keadaan aman.
“Orang tua tidak sekadar menitipkan anak untuk belajar. Mereka menitipkan amanah, kepercayaan dan harapan," ujarnya merespons mencuatnya dugaan kekerasan di sejumlah daerah.
" Ada yang berharap anaknya memperoleh pendidikan agama yang baik, ingin anaknya tumbuh mandiri, bahkan ada keluarga yang karena keterbatasan ekonomi mempercayakan pendidikan anaknya kepada pesantren, apapun latar belakangnya, harapan mereka sama, anaknya aman dan memiliki masa depan yang baik,”lanjutnya.
Unit Pelaksana Teknis Perlindungan Perempuan dan Anak (UPT PPA) Sulsel mengingatkan bahwa kekerasan terhadap perempuan dan anak tidak hanya berupa kekerasan fisik dan seksual. Kekerasan juga dapat berbentuk kekerasan psikis, eksploitasi, perdagangan orang, serta kekerasan berbasis gender online.
Ia mengatakan rumah, sekolah, pesantren dan lingkungan sosial seharusnya menjadi ruang aman. Tetapi, kewaspadaan tetap diperlukan. Orang yang melakukan kekerasan juga dapat merupakan orang yang dikenal, dekat, dipercaya, bahkan memiliki posisi atau otoritas terhadap anak.
"Yang harus kita bangun bukan ketakutan atau kecurigaan kepada semua orang, tetapi sistem perlindungan yang membuat anak aman dan berani berbicara,” kata Yessy.
Lingkungan pendidikan berasrama memerlukan perhatian khusus, karena anak berada jauh dari keluarga dan berinteraksi secara intensif dengan pendidik, pengasuh, senior, serta pihak lain yang memiliki otoritas.
Penghormatan kepada guru, pengasuh, ustadz maupun kiai tetap merupakan bagian penting dalam lingkungan pendidikan. Namun, penghormatan tersebut perlu berjalan bersama dengan ruang komunikasi yang memungkinkan anak menyampaikan ketidaknyamanan dan meminta pertolongan.
UPT PPA Sulsel mendorong lembaga pendidikan memiliki mekanisme pengaduan yang mudah diakses anak dan memastikan laporan ditangani dengan memperhatikan keselamatan serta kepentingan terbaik anak.
“Kita tidak perlu menunggu kasus menjadi viral untuk memperbaiki sistem. Anak harus tahu ke mana harus bercerita dan melapor. Ketika anak berani bicara, dengarkan, jangan menyalahkan dan pastikan keselamatannya,” ucap Yessy.
Penguatan juga dapat dilakukan melalui edukasi mengenai batas tubuh, pengenalan berbagai bentuk kekerasan, peningkatan kapasitas pendidik dan pengasuh, serta prosedur penanganan ketika terdapat dugaan kekerasan.
Pewarta : Abdul Kadir
Editor: Riski Maruto
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
