Logo Header Antaranews Makassar

TPID Sulsel berupaya tekan harga cabai

Sabtu, 3 Oktober 2026 05:53 WIB
Image Print
Pedagang cabe rawit melayani pembeli di Pasar Terong, Makassar, Sulawesi Selatan. (ANTARA/Arnas Padda)

Makassar (ANTARA) - Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Sulawesi Selatan menguatkan Gerakan Pangan Murah (GPM) di Kota Makassar sebagai upaya menekan dampak kenaikan harga cabai sekaligus menjaga daya beli masyarakat.

"Kegiatan GPM di halaman Kantor Camat Tallo, Makassar, dirangkaikan dengan edukasi QRIS serta edukasi hilirisasi komoditas cabai," kata Plt. Kepala Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Sulawesi Selatan Muh. Ilyas di Makassar, Jumat.

Pada kesempatan tersebut Camat Tallo Andi Husni dan Deputi Direktur Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan Oki Hermawan memberikan apresiasi atas kegiatan GPM yang disambut meriah oleh masyarakat setempat.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan Rizki Ernadi Wimanda menyampaikan bahwa GPM merupakan bagian dari sinergi pemerintah daerah dan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas harga pangan serta daya beli masyarakat.

Pelaksanaan GPM menerapkan prinsip 4T, yakni tepat lokasi, tepat sasaran, tepat waktu, dan tepat komoditas, terutama untuk komoditas pangan yang mengalami tekanan harga.

Cabai menjadi salah satu komoditas yang mendapat perhatian dalam kegiatan tersebut. Berdasarkan perkembangan harga per 25 September 2026, harga cabai rawit merah di Kota Makassar mencapai Rp71.250 per kilogram, berada di atas Harga Acuan Penjualan (HAP) tingkat konsumen yang berada pada kisaran Rp40.000 hingga Rp57.000 per kilogram.

Sebanyak 250 paket tebus murah cabai disiapkan dalam kegiatan tersebut dengan harga Rp17.500 per paket. Setiap paket berisi cabai merah 200 gram, cabai rawit 200 gram, dan cabai keriting 200 gram.

Pembelian paket cabai dilakukan menggunakan QRIS. Selain memperoleh pangan dengan harga lebih terjangkau, masyarakat sekaligus diperkenalkan dengan transaksi pembayaran digital yang mudah, cepat, dan efisien.

GPM juga menyediakan berbagai kebutuhan pangan lainnya, seperti beras, bawang merah, bawang putih, minyak goreng, gula pasir, daging ayam, daging sapi, telur ayam ras, tepung terigu, sayuran, buah segar, serta produk olahan.

Bank Indonesia menilai pengendalian inflasi pangan tidak hanya dilakukan melalui intervensi harga, tetapi juga perlu diperkuat dengan digitalisasi pembayaran dan pengembangan nilai tambah komoditas.

Karena itu, rangkaian kegiatan GPM turut menghadirkan edukasi hilirisasi cabai dan menampilkan produk olahan cabai dari UMKM binaan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulsel.

Pengolahan cabai menjadi produk bernilai tambah dinilai dapat memperluas potensi pasar, memperpanjang umur simpan, sekaligus membuka peluang pengembangan usaha bagi pelaku UMKM.

Integrasi antara GPM, digitalisasi pembayaran, dan hilirisasi cabai menjadi bagian dari pendekatan TPID Sulsel dalam merespons tekanan harga pangan sekaligus memperkuat ekosistem ekonomi daerah.



Pewarta :
Editor: Riski Maruto
COPYRIGHT © ANTARA 2026