BKP2 NTT : tiga kabupaten paling rawan kekeringan

id bkp2 ntt, kekeringan, elnino, kemarau

Ilustrasi kekeringan (ANTARA FOTO/Saiful Bahri)

"Ketiga kabupaten tersebut adalah Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS)...
Kupang (ANTARA Sulsel) - Kepala Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan (BKP2) Nusa Tenggara Timur Hadji Husen mengatakan ada tiga dari 21 kabupaten/kota di provinsi berbasis kepulauan ini yang paling rawan menghadapi ancaman kekeringan.

"Ketiga kabupaten tersebut adalah Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Sabu Raijua dan Kabupaten Sumba Timur," kata Hadji Husen kepada Antara di Kupang, Selasa, terkait ancaman kekeringan akibat dampak gelombang panas El Nino di NTT.

"Petugas penyuluh lapangan (PPL) kami terus memantau dampak kekeringan di seluruh wilayah NTT. Dari laporan dan hasil analisa, ada tiga daerah yang paling rawan terhadap kekeringan," katanya.

Sementara 18 kabupaten/kota lainnya, menurut dia, juga mengalami kekeringan, namun masuk dalam kategori kekeringan normal.

"Kalau 18 kabupaten itu memang juga terjadi kekeringan, tetapi kami menilai masih normal karena tidak berdampak pada kerusakan tanaman pertanian dan perkebunan," katanya.

Dia mengatakan puncak musim kering diperkirakan akan berlangsung pada Oktober-November akibat El Nino moderat.

Artinya, curah hujan akan sangat pendek pada Desember 2015 hingga dua bulan ke depannya.

Karena itu, pihaknya telah menggelar rapat koordinasi dengan Badan Ketahanan Pangan dari kabupaten/kota untuk mengambil langkah-langkah penanganan di lapangan.

Langkah penanganan yang harus dilakukan adalah memantau kecukupan air, baik itu untuk areal persawahan, palawija atau holtikultura, katanya.

Khusus untuk kawasan yang ada sumur bor diharapkan dapat dimanfaatkan secara optimal untuk menanam tanaman umur pendek.

"Bagi BKP2, dalam hal ketahanan pangan masih mencukup terutama padi dan jagung. Tetapi kalau padi tidak mengembirakan maka langkah antisipasinya adalah harus dengan tanaman umur pendek," kata Hadji Husen.
Pewarta :
Editor: Daniel
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar