
Taman Nasional Komodo andalan NTT tarik wisatawan

"TNK yang dihuni biawak raksasa komodo (varanus kommodoensis) ...
Kupang (ANTARA Sulsel) - Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Nusa Tenggara Timur Marius Ardu Jelamu mengatakan Taman Nasional Komodo (TNK) di ujung barat Pulau Flores, merupakan andalan utama daerah ini untuk menarik wisatawan nusantara dan mancanegara.
"TNK yang dihuni biawak raksasa komodo (varanus kommodoensis) sudah ditetapkan menjadi salah satu dari tujuh keajaiban dunia (New7 Wonders), sehingga cukup beralasan jika dijadikan sebagai titik utama untuk menggaet wisatawan ke NTT," katanya kepada Antara di Kupang, Senin.
Luas wilayah TNK mencapai sekitar 173.300 hektare, yang terdiri atas daratan seluas 40.728 ha dan 132.572 ha lautan yang telah ditetapkan oleh UNESCO sebagai cagar biosfer pada 1977.
Wilayah komodo dan sekitarnya ditetapkan sebagai taman nasional pada 1980, dan pada 2011 ditetapkan pula sebagai salah satu dari tujuh keajaiban dunia versi organisasi New7Wonders.
Kawasan TNK tidak hanya meliputi Pulau Komodo semata, tetapi juga Pulau Rinca, Padar, Gili Motang dan Nusa Kode, karena menjadi habitatnya binatang purba tersebut.
Kunjungan wisatawan mancanegara untuk melihat dari dekat salah satu keajaiban dunia itu, terus meningkat dari tahun ke tahun, sehingga cukup beralasan jika dijadikan sebagai "magnit pariwisata" NTT.
Dari catatan Balai Konservasi Taman Nasional Komodo pada Juni 2015, misalnya, kunjungan wisatawan mancanegara ke TNK mencapai 34.218 orang, sementara wisatawan nusantara hanya tercatat 8.365 orang.
Pada tahun 2014, jumlah wisatawan mancanegara yang berkunjung ke TNK mencapai 67.089 orang, sementara wisatawan domestik hanya tercatat 13.537 orang.
Wisatawan dari Jerman 7.556 orang, menyusul Perancis 6.771 orang, Amerika Serikat 6.500 wisatawan, Australia 5.896 wisatawan, Belanda 5.673 wisatawan, Inggris 4.764 wisatawan, Italia 3.272 wisatawan, Kanada 3.096 wisatawan dan Spanyol 2.890 wisatawan.
Pewarta : Hironimus Bifel
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
