
Oknum Mahasiswa dituding minta dana Kapolda Sulsel

"Kami menilai adanya oknum mahasiswa mengatasnamakan BEM meminta dana tersebut...
Makassar (ANTARA Sulsel) - Sejumlah aktivis dari beberapa kampus berbeda menuding sejumlah oknum pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) meminta dana kepada Kapolda Sulawesi Selatan dan Barat untuk keperluan transportasi pertemuan mahasiswa nasional di Yogjakarta.
"Kami menilai adanya oknum mahasiswa mengatasnamakan BEM meminta dana tersebut telah menodai esensi pergerakan mahasiswa, khususnya mahasiswa makassar yang selama ini dikenal idealis," kata Rahmat Ardiyansah Mahasiswa UIT Makassar, Selasa.
Menurut dia pertemuan itu memang digelat sekali setahun, tetapi hanya akan mengikis ideologi pergerakan mahasiswa. Pertemuan tersebut diduga hanya berkedok industrialisasi yang berorientasi menjadi pekerjaan dan akan membungkam gerakan mahasiswa yang dulunya kritis.
Senada, Ketua Majelis Perwakilan Mahasiswa atau Maperwa Universitas Indonesia Timur (UIT) Makassar, Sakinah mengaku kaget mendengar adanya isu tersebut yang menjadi tranding topik di media sosial.
Seharusnya mahasiswa berada tetap pada jalur ideologi gerakan mahasiswa yang sebenarnya. Sebuah gerakan intelektual muda yang mampu memperjuangkan kepentingan rakyat dan mengkritisi penguasa.
"Mahasiswa harus menunjukkan kepeduliannya serta peka menangkap permasalahan mendasar dari rakyat kecil. Dan berkomitmen memperjuangkan hak mereka bukan malah gampang disetir kesana kemari karena telah menerima suap dari penguasa" tegas Sakinah.
Menurut dia, mahasiswa adalah kaum muda yang berfikir, bersemangat dan bergerak, sehingga tidak akan diragukan independensinya. Ideologi mahasiswa tidak akan terjualbelikan.
"Mari satukan semangat mahasiswa yang tetap membara dan kritis, gerakan mahasiswa yang menolak intervensi penguasa, gerakan mahasiswa yang menolak suap untuk membeli gerakan murni mahasiswa," harapnya.
Sementara Ince Haidir Syawal mahasiswa Universitas Muhammadiyah Makassar menilai alasan tidak adanya transportasi ke Pertemuan Nasional tersebut tidak mendasar, sehingga harus memperdagangkan gerakan dan ideologi mahasiswa.
Dengan hanya senilai biaya transportasi ke tempat pertemuan tahunan itu, idealisme mahasiwa tergadai, padahal pertemuan itu disinyalir sarat kepentingan politik birokrat untuk masuk dan mengintervensi gerakan mahasiswa.
"Kami lebih memilih berteman dengan pembangkang yang mempunyai prinsip normatif, ketimbang berteman dengan penjilat yang hanya mempunyai naluri untuk menjual," ujar Haidir menegaskan.
Berdasarkan informasi dari jejaring sosial facebook disebutkan sejumlah oknum mengatasnamakan perwakilan BEM se Makassar seperti UIT, Universitas Islam Makassar (UIM), Unismuh dan STIMIK meminta sumbangan bantuan dana transportasi ke Kapolda Sulselbar.
Sedangkan dalam akun Kapolda Sulselbar Irjen Pol Pudji Hartanto Iskandar tertulis di statusnya, "maka kami siap memberikan fasilitas kendaraan sesuai kebutuhan nantinya." Saat dikonfirmasi melalui ponselnya terdengar sibuk, begitupun di sampaikan melalui pesan pendek belum dijawab.
Pewarta : Darwin Fatir
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
