Kadis Kesehatan: 2017 donasi penanganan TB berakhir

id who, tuberculosis, dinas kesehatan sulawesi selatan, rahmat latief

Kepala Dinas Kesehatan Sulsel Dr dr Rahmat Latief (kanan) dan dr Mustafa Djide pada acara `Media Briefing` terkait pengendalian TB, di Makassar, Kamis (10/12). (ANTARA FOTO/Suriani Mappong)

"Global Fund di bawah naungan World Health Organization (WHO)...
Makassar (ANTARA Sulsel) - Kepala Dinas Kesehatan Sulsel Dr dr Rahmat Latief mengatakan, donasi penanganan Tuberculosis dari Global Fund akan berakhir pada 2017.

"Global Fund di bawah naungan World Health Organization (WHO) ini merupakan donatur penanganan Tuberculosis (TB-) di Indonesia," kata Rahmat pada acara `Media Briefing` tentang penanggulangan TB, di Makassar, Kamis.

Menurut dia, pentingnya organisasi dunia itu membantu penanganan TB di Indonesia, karena negara yang berpenduduk lebih dari 200 juta ini berada pada nomor urut ke-3 dunia yang tertinggi penderita TB-nya setelah Cina dan India.

Berdasarkan data Kemenkes yang dikutip Dinkes Sulsel, jumlah prevalensi TB di Indonesia pada 2014 tercatat 1,6 juta jiwa atau sebanyak 647 jiwa per 100 ribu penduduk.

Sementara insiden TB pada periode yang sama mencapai 1 juta atau 399 per 100 ribu penduduk. Sedang angka mortalitas TB 100 juta atau 41 orang per 100 ribu penduduk.

Menurut Rahmat, replikasi penanganan TB dan sejumlah strategi sudah disiapkan sebelum pihak Global Fund mengakhiri donasinya.

Sebagai gambaran, untuk penanganan penyembuhan satu orang pasien TB rata-rata Rp2 juta per enam bulan, sedang yang perlu penanganan hingga dua tahun biaya pengobatannya mencapai Rp110 juta.

"Obat dan pelayanan yang diberikan semuanya gratis, karena biayanya ditanggung Global Fund," katanya.

Berkaitan dengan itu, lanjut dia, maka perlu sosialisasi pada masyarakat agar yang dicurigai TB atau pun memiliki gejala TB segera memeriksakan diri ke Puskesmas, rumah sakit ataupun klinik.

Sementara itu, Provincial Project Officer Global Fund ATM Komponen TB dr Mustafa Djide mengatakan, sebanyak 85 rumah sakit dan 455 Puskesmas yang tersebar di 24 kabupaten/kota di Sulsel, menyiapkan layanan khusus bagi penderita TB, termasuk penyediaan obatnya.

"Obat khusus bagi penderita TB dari WHO ini tidak dijual di apotik, karena ini merupakan obat penting dan sudah diujicobakan selama lima tahun. Sulsel menjadi salah satu daerah uji coba pada 1998 - 2003," kata mantan Kadis Kesehatan Sulsel ini.
Pewarta :
Uploader: Daniel
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar