
Ketiadaan Pakan Jadi Alasan Pemindahan Komodo

Kupang (ANTARA Sulsel) - Pemindahan komodo ke Taman Safari Indonesia (TSI) di Gianyar, Bali dilakukan karena perburuan liar terhadap rusa yang menjadi makanan komodo, sehingga populasi makanan binatang langka dan dilindungi ini berkurang.
"Perburuan liar terhadap rusa yang menjadi makanan komodo mengakibatkan populasinya terus menurun," kata Kepala Dinas Kehutanan Provinsi NTT Yoseph Diaz di Kupang, Minggu.
Menteri Kehutanan (Menhut) MS Kab'an dalam suratnya No.SK.384/Menhut-II/2009 meminta Taman Nasional Komodo (TNK) untuk memindahkan 10 ekor binatang purba itu ke Taman Safari Indonesia di Gianyer, Bali.
Dia mengatakan, berdasarkan hasil survei tahun 2009, jumlah populasi rusa kurang dari satu ekor perkm persegi, sehingga sekitar 25 persen komodo memangsa ternak masyarakat di permukiman penduduk dan memangsa sesamanya di habitat alaminya.
"Penyebab terganggu kehidupan spesies komodo dan rusa adalah kebakaran hutan yang merusak dan menganggu," katanya.
Dia menjelaskan, produksi telur komodo rata-rata sebanyak 30-40 butir, namun yang berhasil menetes hanya 50 persen, karena gangguan predator, seperti biawak dan babi hutan. Setelah telur menetas, anak komodo melindungi diri dengan memanjat pohon untuk menghindari dimangsa komodo dewasa.
Alasan lainnya, kata Diaz, terbatasnya dana dan perusahaan peminat untuk melakukan captive breeding (penangkaran) di NTT serta adanya kewajiban lembaga konservasi di TSI untuk melakukan program konservasi dalam habitatnya (in-situ).
Karena itu, untuk membantu dan menginventarisir secara periodik populasi komodo dan makanannya pada habitat alamnya konservasi, maka perlu dilakukan konservasi "ex-situ" atau di luar habitat alam.
Tujuan pemindahan komodo tersebut, kata Diaz, untuk mengembangbiakan komodo di lembaga konservasi atau di luar habitat alaminya, dan itu dapat dilakukan, karena telah memperoleh ijin dari Menteri Kehutanan (Menhut) berdasarkan rekomendasi otoritas ilmiah (LIPI) dengan kontrol yang ketat.
Pemindahan itu juga dilakukan untuk menambah populasi komodo, sehingga di waktu mendatang komodo dapat dilepas-liarkan kembali untuk dilestarikan di habitat alaminya di NTT dengan jumlah yang lebih banyak.
Rencana pemindahan 10 ekor komodo yang telah menjadi "icon" Provinsi NTT ke TSI Gianyar, Bali ditolak pemerintah dan masyarakat NTT. Selain itu, rencana pemindahan komodo tersebut akan menganggu keikutsertaan komodo pada kontes tujuh keajaiban dunia (News Seven Wonders).
(T.PSO-085/R007)
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
