
Indonesia belum miliki data base efisiensi energi

"Bicara efisiensi energi itu tentu harus menggunakan indeks sebagai acuan. Untuk masalah ini, Indonesia memang belum punya," kata Rana pada acara bertajuk "Solution World" yang diselenggarakan Schneider Electric di Makassar, Selasa.
Makassar (ANTARA Sulsel) - Pakar bangunan hemat energi yang juga sekaligus Core Founder Green building Council Indonesia Rana Yusuf Nasir menyatakan Indonesia hingga kini belum memiliki data base energi efisiensi indeks.
"Bicara efisiensi energi itu tentu harus menggunakan indeks sebagai acuan. Untuk masalah ini, Indonesia memang belum punya," kata Rana pada acara bertajuk "Solution World" yang diselenggarakan Schneider Electric di Makassar, Selasa.
Ia mencontohkan, dalam sebuah peraturan gubernur (Pergub) DKI Jakarta Nomor 38 Tahun 2012 tentang bangunan hijau ada patokan energi efisiensi indeks.
Melalui Pergub itu, kata dia, secara tegas dijelaskan ada patokan untuk mengetahui satu gedung itu sudah termasuk ramah lingkungan atau hemat energi atau tidak jika memenuhi acuan yang ada.
Namun hingga saat ini, aturan itu tidak juga bisa terwujud secara nyata. Para pengusaha gedung dan bangunan komersial lainnya tidak mampu menerapkan segala aspek yang bisa memberikan efisiensi energi.
"Para pemilik gedung tidak mampu melaksanakan itu. Bahkan kita pernah minta ke Asosiasi Manajemen Properti Indonesia, ternyata yang diberikan hanya sebanyak 36 gedung. Itu tentu tidak bisa menjadi sampel efisiensi energi dengan jumlah totalnya yang mencapai ribuan gedung," katanya.
Untuk data base energi efisiensi indeks tersebut, kata dia, memang penting dihadirkan. Sebab dari data base ini, bisa diketahui apakah bagunan itu sudah efisiensi energi atau tida.
Jika sudah mencapai standar yang ditetapkan, kata dia, maka indeks itu akan kembali diubah atau semakin diturunkan. Begitupun jika sudah banyak gedung yang memiliki data base maka tentu akan membuat pekerjaan lebih mudah.
"Tapi kuncirnya kita harus punya data base dari energi efisiensi indesk dari bangunan bangunan tergantung tepologinya seperti mal, rumah sakit, hotel dan sejenisnya. Indeks ini juga dipengaruhi lokasi gedung apakah berada di daerah dingin atau sebaliknya," katanya.
Menurut dia, bangunan gedung berdasarkan data ternyata mampu menghabiskan lebih dari sepertiga sumber daya energi sepanjang masa konstruksi, sebanyak 40 persen total energi global serta menghasilkan 40 persen dari total emisi gas rumah kaca.
Melihat fakta yang terjadi maka sudah seharusnya pemerintah memberikan fokusuntuk segera membentuk data base demi merealisasikan keinginan efisiensi energi pada masa yang akan datang.
Pewarta : Abd Kadir
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
