Polda utamakan kasus perlindungan anak dan perempuan

id perlindungan anak, kapolda sulselbar, anton charliyan

"Semua polres harus mendahulukan kasus-kasus perlindungan anak dan perempuan ini...
Makassar (ANTARA Sulsel) - Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat telah menginstruksikan kepada seluruh polres untuk mengutamakan kasus perlindungan anak dan perempuan.

"Semua polres harus mendahulukan kasus-kasus perlindungan anak dan perempuan ini. Akan tetapi, bukan berarti kasus lainnya tidak jadi perhatian. Intinya, semua kasus yang ditangani itu jadi perhatian," kata Kapolda Sulselbar Irjen Pol. Anton Charliyan di Makassar, Rabu.

Keseriusan Kapolda dalam kasus perlindungan anak dan perempuan ini dibuktikannya dengan mengeluarkan telegram yang ditujukan kepada setiap polres agar mengedepankan kasus ini.

Kapolda yang juga mantan Kepala Divisi Humas Mabes Polri itu mengaku jika peristiwa pembunuhan yang dilakukan oleh orang tua terhadap anak kandungnya sendiri merupakan kejahatan luar biasa.

"Pembunuhan terhadap anak-anak itu adalah kejahatan yang luar biasa. Pelakunya akan dikenai pasal berlapis untuk mendapatkan hukuman maksimal," katanya.

Sebelumnya, Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak Arist Merdeka Siregar menyatakan jika pembunuhan terhadap anak sendiri masuk dalam kategori pembunuhan luar biasa (extraordinary crime).

"Ini adalah salah satu pembunuhan sadis yang terjadi di Makassar dengan korbannya masih bocah. Pembunuhan terhadap anak sendiri itu masuk kategori `extraordinary crime`," jelasnya saat berkunjung ke Polsek Tamalanrea.

Pelaku pembunuhan terhadap anak kandungnya itu, yakni Jamaluddin (32) yang membunuh anaknya Alimuddin (5) dengan menggunakan tabung gas.

Arist Merdeka mengatakan bahwa tindakan penganiayaan terhadap anak-anak dan perempuan di Indonesia ini harus mendapatkan hukuman yang setimpal terlebih jika itu dilakukan terhadap anak sendiri.

Aris bersama Tim Unit Reaksi Cepat (URC) Komnas PA Indonesia saat mengetahui adanya pembunuhan sadis terhadap bocah di Makassar ini, pihaknya kemudian menjadwalkan kedatangan itu ke Makassar untuk melakukan pembicaraan terhadap pelakunya.

"Tim URC sudah datang mendahului saya dan mereka sudah melakukan wawancara langsung terhadap pelaku. Saya hanya berbincang sama pelakunya di balik penjara dan mendengarkan langsung pengakuan pelaku serta apa motif pembunuhan itu," katanya.

Jika keterangan berubah yang disampaikan pelaku saat dirinya berbincang singkat itu harus didalami oleh penyidik kepolisian, terlebih lagi jika pelaku memang memiliki riwayat gangguan kejiwaan.

"Saya dapat kabar dari Pak Polisi kalau pelaku ini sudah pernah dirawat di rumah sakit jiwa. Ini harus diselidiki lebih jauh oleh penyidik apakah saat melakukan itu memang sedang labil ataukah dalam keadaan sadar. Nanti hasilnya biar majelis hakim pengadilan yang memberikannya hukuman," katanya.
Pewarta :
Uploader: Daniel
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar