BPBAP Takalar Kembangkan Garam Organik Lawi-lawi

id bpbap takalar, garam organik, lawi-lawi

Garam organik Lawi-lawi (ANTARA FOTO/Nurhaya J Panga)

"Garam Lawi-lawi ini lebih sehat, karena tidak mengandung logam berat," kata Perekayasa Muda BBAP Takalar ...
Makassar (Antara Sulsel) - Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP) Kabupaten Takalar mengembangkan garam organik yang terbuat dari ekstrak sejenis rumput laut Lawi-lawi (Caulerpa sp).

"Garam Lawi-lawi ini lebih sehat, karena tidak mengandung logam berat," kata Perekayasa Muda BBAP Takalar Bidang Udang Windu, Nila salin dan Lawi-lawi Dasep Hasbullah yang ditemui di Makassar, Kamis.

Garam Lawi-lawi ini, kata dia, bebas dari logam berat karena berasal dari bagian tubuh tumbuhan yang memiliki mekanisme filter terhadap zat-zat racun, dan hanya menyerap zat-zat yang bermanfaat bagi tumbuhan tersebut.

Proses pembuatan garam ini dimulai dari pemanenan Lawi-lawi di tambak, kemudian diikuti dengan pemberokan atau pembersihan di kolam untuk menghilangkan lumpur, bau, atau kotoran lain, selama satu malam.

Setelah itu Lawi-lawi dibawa ke tempat pencucian dan pembilasan pertama. Pencucian dan pembilasan ini berlangsung selama 24 jam.

Setelah dicuci dan dibilas, selanjutnya Lawi-lawi dimasukkan ke dalam ruangan khusus untuk proses purifikasi, yang menggunakan air laut steril yang telah disinari sinar Ultra Violet (UV).

"Proses ini memakan waktu empat hari, setelah proses ini Lawi-lawi tidak lagi mengandung organisme yang berbahaya," ucapnya.

Selanjutnya Lawi-lawi diseleksi dengan memisahkan antara batang dengan daun-daunnya yang berbentuk seperti buah anggur kecil.

"Batang ini biasanya tidak dimanfaatkan, nah bagian inilah yang kita ektrak untuk menghasilkan produk turunan garam Lawi-lawi, garam ini diperoleh dari cairan batang Lawi-lawi yang diendapkan," jelasnya.

Dasep mengatakan dibutuhkan waktu sekitar 10 hari, mulai dari panen hingga hasil akhir garam Lawi-lawi diperoleh.

Menurut dia, secara ekonomis produk garam Lawi-lawi ini cukup menjanjikan, karena hanya berasal dari bagian tubuh Lawi-lawi yang dianggap sampah. Ia optimistis produksi garam Lawi-lawi secara komersial sangat dimungkinkan, dan dapat diadopsi secara luas oleh petani.

"Saat ini kami sedang mengurus hak paten dari produk ini, harapannya nanti teknologi produksi ini dapat kami sebarkan ke petani," pungkasnya.
Pewarta :
Uploader: Daniel
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar