Makassar-Denmark Jajaki Kerja Sama Pengelolaan Sampah

id walikota makassar, duta besar denmark, casper klynge, sampah

Wali Kota Makassar Moh Ramdhan Pomanto (kanan) saat rapat koordinasi bersama Dubes Denmark untuk Indonesia Casper Klynge terkait pengelolaan sampah di Kedubes Denmark, Jakarta, Jumat (10/2). (FOTO/Humas Pemkot Makassar)

"Kami diundang ke kantornya di Jakarta dan saat rapat koordinasi kita menjelaskan kondisi persampahan...
Makassar (Antara Sulsel) - Pemerintah Kota Makassar menjajaki kerja sama dengan pemerintah Denmark melalui duta besarnya untuk Indonesia Casper Klynge terkait pengelolaan sampah.

"Kami diundang ke kantornya di Jakarta dan saat rapat koordinasi kita menjelaskan kondisi persampahan di Makassar serta bagaimana mengelolanya," ujar Wali Kota Makassar Moh Ramdhan Pomanto di Makassar, Jumat.

Dia mengatakan pertemuannya dengan Duta Besar Denmark itu, banyak membahas mengenai teknologi terbarukan di bidang pengelolaan sampah yang dimiliki oleh negeri "dynamit" Denmark.

Bahkan wali kota sendiri takjub dengan semua teknologi persampahan yang dimiliki Denmark tersebut dan berharap jika teknologi itu bisa digunakan juga di Makassar.

"Teknologi yang digunakan di Denmark itu semuanya canggih dan kita juga tahu bahwa Denmark memang adalah negara terbaik di dunia yang memiliki teknologi persampahan. Kita harapnya, Makassar juga bisa seperti itu," katanya.

Diketahui, kota Makassar sejak beberapa tahun terakhir ini memproduksi sampah rumah tangga sekitar 1.000-1.200 ton per harinya.

Sampah tersebut bersumber dari rumah tangga, rumah sakit, pusat perbelanjaan, pasar, dan industri yang semakin berkembang di Makassar.

"Sebagian besar sampah bersumber dari sampah rumah tangga dan pasar. Jumlahnya selalu di angka 1.000-1.200 ton per hari," kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup Makassar Gani Sirman.

Karenanya, Dinas Lingkungan Hidup Kota Makassar terus berupaya menekan volume sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Tamangapa setiap hari, antara lain dengan menyosialisasikan pentingnya menjaga kebersihan dan memanfaatkan sampah menjadi uang.

Khusus untuk menjadikan sampah menjadi nilai ekonomis dengan cara menukar di bank sampah di wilayah masing-masing setelah pemilahan dilakukan sendiri oleh warga.

"Jadi sampah yang boleh ditukar menjadi beras dan uang itu sudah harus dipilah-pilah, misalnya memisahkan antara sampah organik dan non organik," jelasnya.
Pewarta :
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar