Menawar Cendera Mata Berbahasa Indonesia Di Eiffel

Pewarta : id menara eiffel, cendera mata

Menara Eiffel di Paris, Prancis, sudah merupakan ikon terkenal di dunia dan wajib dikunjungi oleh wisatawan dari manapun saat berkunjung ke negara itu.

Eiffel merupakan sebuah menara besi yang dibangun di Champ de Mars di tepi Sungai Seine di Paris dan menara ini juga telah menjadi ikon global Prancis dan salah satu struktur terkenal di dunia.

Dinamai sesuai nama perancangnya, Gustave Eiffel, Menara Eiffel adalah bangunan tertinggi di Paris dan salah satu struktur terkenal di dunia. Lebih dari 200.000.000 orang telah mengunjungi menara ini sejak pembangunannya tahun 1889 menjadikannya salah satu monumen berbayar yang paling banyak dikunjungi di dunia.

Mengingat memiliki keindahan yang luar biasa dan menjadi ikon terkenal di dunia, siapapun yang berkunjung ke menara itu nyaris tak melewatkan dan melupakan untuk mengabadikan dan berfoto bersama keluarga, handai taulan, maupun swafoto di sekitar Eiffel.

Di sekitar menara itu juga terdapat taman yang begitu hijau dan terawat dengan apik sehingga banyak wisatawan mancanegara maupun masyarakat setempat memanfaatkan untuk berfoto, istirahat, maupun olahraga.

Begitu banyaknya wisatawan mancanegara yang datang ke menara itu sehingga nyaris tak berhenti mulai dari pagi, siang, hingga malam hari menjadikan lokasi itu menjadi tempat empuk bagi pedagang keliling cenderamata untuk menjajakan dagangannya.

Cenderamata yang dijajakan umumnya adalah ikon-ikon khas Paris seperti gantungan kunci dan tempelan magnet miniatur Menara Eiffel, miniatur Eiffel berukuran sedang hingga besar terbuat dari tembaga, gantungan kunci dan tempelan magnet Gerbang Kemenangan atau Arc de Triomphe, serta gantungan kunci dan tempelan magnet miniatur Museum Louvre.

Penjualnya umumnya adalah warga berkulit hitam yang berasal dari sejumlah negara di Benua Afrika dan untuk menarik minat pembeli biasanya mereka bisa sedikit berbahasa asing, termasuk Bahasa Indonesia.

Saat sejumlah warga negara Indonesia datang mengunjungi Menara Eiffel, sejumlah pedagang pun mengerubuti sambil berkata dan mengacungkan dagangnnya "Ayo beli...ayo beli. Murah...murah".

"Ini bagus...ini bagus, ayo beli," kata Ahmed salah seorang pedagang yang mengaku imigran dari Nigeria yang sudah menjadi warga negara Prancis.

Sekalipun Ahmed hanya bisa berbahasa Indonesia sangat sederhana dan lafalnya sering tak begitu jelas, sontak tawarannya itu membuat wisaawan Indonesia terhenti dan memperhatikan Ahmed dan dagangannya.

"Yang ini 10 euro," katanya sambil menawarkan sebuah miniatur Menara Eiffel berukuran besar. "Kalau dengan ini harganya 20 euro," katanya sambil mengeluarkan sejumlah gantungan kunci dan magnet Eiffel berukuran kecil dari tas kantong plastiknya. Sebagai catatan 1 euro sekitar Rp15.160.

Pembeli yang menilai harga tersebut terlalu mahal pun bisa menawar di situ dan Ahmed pun dengan Bahasa Indonesia yang terbata-bata pun meladeni. "Bolehlah...silahkan pilih tapi jangan banyak-banyak motongnya (maksudnya potongan harganya)," katanya.

Namun ketika diajak berbicara dan ditanya menggunakan Bahasa Indonesia sudah berapa lama berdagang di situ dan apakah sudah pernah ke Indonesia, Ahmed pun kebingungan menjawab menggunakan Bahasa Indonesia. Selanjutnya percakapan menggunakan Bahasa Inggris agar terjadi komunikasi.

Bukan hanya Ahmed yang bisa menggunakan Bahasa Indonesia saat menjajakan dagangannya, tapi banyak pedagang berkulit hitam lainnya yang juga bisa menggunakan Bahasa Indonesia berkeliaran di sekitar Menara Eiffel.

Awas copet

Usai kita membeli sejumlah cendera mata dan melangkah beberapa meter saja, sudah ada lagi pedagang yang menjajakan dagangannya dengan Bahasa Indonesia. "Ayo beli lagi...bisa ditawar," kata seorang pedagang berulang-ulang.

Umumnya cendera mata yang ditawarkan bentuk, ukuran maupun harganya sama saja, tinggal kita bisa atau tidak menawar harga sesuai dengan kemampuan kantong kita.

Bahkan seorang pedagang bernama Mahmoud bisa mengingatkan pembeli menggunakan Bahasa Indonesia untuk berhati-hati saat berkeliling di sekitar Menara Eiffel. "Awas di sini banyak copet. Hati-hati," katanya yang disambut tertawa oleh sejumlah wisatawan asal Indonesia karena lafalnya yang tak jelas dan lucu.

Saat diajak berbicara menggunakan Bahasa Inggris, baik Ahmed maupun Mahmoud mengaku bahwa mereka sengaja mempelajari sejumlah bahasa asing untuk menarik pembeli yang datang dari bebagai negara.

Di antara mereka ada yang bisa sedikit bahasa Indonesia, bahasa Jepang, bahasa Mandarin, bahasa Italia, bahasa Jerman, dan tentu bahasa Prancis dan Inggris.

Mereka mengaku tak memperoleh pendidikan formal untuk belajar bahasa asing tapi hanya otodidak membaca buku.

"Banyak orang Indonesia yang datang ke sini dan saya bisa tahu kalau mereka orang Indonesia walaupun saya suka bingung apakah dia orang Indonesia, Malaysia, Filipina atau Thailand," kata Mahmoud.

Sejumlah pedagang di situ mengingatkan bahwa saat menikmati keindahan Menara Eiffel harus tetap waspada mengingat banyak sekali copet yang berkeliaran untuk mengambil dompet, uang, hingga paspor.

Berbagai cara bisa dilakukan agar terhindar dari copet, antara lain dengan meletakkan tas di depan dada dan jangan pernah menempatkan tas di belakang atau samping badan, karena itu akan memudahkan copet untuk beraksi.

Modus yang dilakukan pencopet antara lain seorang wanita muda mencoba mendekati dan mengajak berbicara dalam bahasa Inggris "Do you speak English?" Kalau yang diajak berbicara berhenti dan melayani maka siap-siap masuk dalam perangkap karena tak lama lagi teman-temannya bergerombol akan ikut nimbrung mengajak berbicara.

Memang keindahan Menara Eiffel bisa membuat takjub siapapun yang melihatnya apalagi saat malam hari ketika diterangi dan disinari oleh lampu warna-warni sehingga membuat menara itu makin cantik saja.

Namun dibalik keindahan itu patut diwaspadai keberadaan copet yang berkeliaran dan siap memangsa siapapun yang lengah saat memandangi Eiffel, sehingga perlu ekstra waspada agar tak mengalami kejadian yang tak diinginkan.           
Editor: Laode Masrafi
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar