Menghubungkan Kembali Antara Pendidikan Dengan Kehidupan

id artikel

        Ho Chi Minh (Antara News) - "Aku maunya masuk jurusan Bahasa Jepang tapi enggak boleh sama orang tua," demikian pengakuan Femia Yamaniastuti (27) yang saat ini bekerja sebagai salah satu staf di Japan Foundation.

        Femia merupakan lulusan Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Pendidikan Indonesia (UPI/IKIP), Bandung, angkatan 2007.

        Ia mengungkapkan jurusan yang ia ambil bukan semata-mata keinginannya, tapi atas dasar arahan orang tua.

        "Orang tua maunya ke FPMIPA (Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam), tapi aku enggak suka, ke Pendidikan Bahasa Inggris 'win-win solution' saja, selama itu bahasa aku suka," katanya.

        Bersyukur saat ini wanita yang aktif bergelut di dunia seni teater itu bekerja sesuai dengan "passion" yang ia miliki sejak dulu, yaitu Bahasa Jepang.

        Saat ini, Ia pula tengah mempelajari bahasa peringkat kedua yang paling banyak dipelajari oleh orang Indonesia itu.

        Hal yang sama juga dikatakan Lulusan Keperawatan Yayasan Pendidikan Imam Bonjol Majalengka Egi Munggarani Putri (24) yang saat ini bekerja di perusahaan asuransi.

        "Orang tua memberikan pilihan untuk masuk Jurusan Keperawatan karena mereka berpikir bekerja dalam bidang kesehatan akan mudah ditemukan di lapangan dan bisa menolong orang," ujarnya.

        Kenyataannya, Egi saat ini memilih "kerja kantoran" karena kesejahteraan di perusahaan tersebut lebih baik dibanding di rumah sakit dan waktu bekerja yang pasti, berbeda dengan bekerja sebagai perawat yang harus masuk saat akhir pekan dan giliran jaga.

        Lain lagi dengan Dyah Naning (31) yang mengaku bekerja tidak sesuai dengan bidang yang dipilih saat kuliah tidak menjadi masalah baginya.

        Dyah merupakan lulusan Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Tidar Magelang yang saat ini bekerja di salah satu bank swasta.

        "Bekal pendidikanku tetap bisa berguna di segala bidang, tidak harus menjadi guru," kata wanita yang juga pernah mengeyam pendidikan D3 di Universitas Diponegoro, Semarang itu.

        Meskipun Ia merasa menjadi guru waktunya lebih fleksibel untuk keluarga dan Ia menyukai Bahasa Inggris, Dyah berusaha menikmati pekerjaan yang saat ini ia geluti.

        Menurut Pakar Pendidikan Eswest Leadership Training and Development Daniel Tran Anh Tuan, fenomena tersebut merupakan tanda "terputusnya" hubungan antara pendidikan dengan kehidupan.

        Daniel menjelaskan seharusnya pendidikan itu mendukung karier seseorang untuk menjalani kehidupannya, tentunya sesuai dengan hasrat atau "passion" yang dimiliki.

        "Pendidikan yang baik akan mendatangkan kehidupan yang baik, apabila tidak, maka ada jarak di antaranya dan di antara kedua itu tidak terhubung sama sekali," kata pria berkebangsaan Vietnam itu.

        Ia sendiri pun dulunya merupakan seorang insinyur lulusan Teknik Elektro Nanyang Technological University Singapura, namun Ia merasa pendidikan selama ini ditempuh tidak mendukung hasratnya yang lebih tertarik dalam dunia pendidikan.

        "Sampai pada satu hari saya tidak tahu lagi apa yang harus saya lakukan di bidang teknik, saya mau di dunia pendidikan," katanya.

        Akhirnya pria yang sudah berkarier di Singapura selama 10 tahun itu memutuskan untuk melanjutkan pendidikan Master of Training and Development (MTD) di Griffith University, Australia.

        Dari situ, Daniel mendedikasikan hidupnya untuk dunia pendidikan hingga kini dan berupaya mengubah pola pikir serta perspektif masyarakat Vietnam khususnya akan pentingnya hubungan pendidikan dengan kehidupan.

        Namun, bukan berarti ilmu yang ia dapat di Jurusan Teknik Elektro dan berkecimpung dalam pekerjaan selama tujuh tahun itu tidak berguna, Ia masih mengimplementasikannya dalam merancang media pembelajaran.

        
Mengubah Perspektif
   Daniel menilai fenomena sosial yang terjadi di dunia pendidikan tersebut bukan hanya terjadi di Vietnam dan Indonesia, tetapi juga hampir di seluruh negara-negara ASEAN.

        Untuk itu, beberapa tahun lalu Ia membuat proyek percontohan dalam sebuah pelatihan untuk mengetahui tujuan seseorang dalam memilih pendidikan.

        "Saya tidak merancang konten pembelajaran, tapi saya merancang proses pembelajaran," ujar pria yang mengantongi Advanced Certificate in Training and Assessment (ACTA) terakreditasi Workforce Development Agency (Singapore).

        Dia menuturkan dalam pelatihan tersebut, setiap orang diberi tiga pertanyaan, yaitu siapa saya (Who am I?), apa yang paling saya inginkan (What I really want to do?) dan bagaimana saya melakukan itu (How do I do it?).

        Setiap orang harus fokus untuk menjawab pertanyaan tersebut dan pola pembelajarannya dibalik bukan bagaimana menuruti keinginan guru, tapi bagaimana mewujudkan keinginan murid.

        "Saya tidak mengubah kurikulum yang sudah ada, tetapi melengkapinya. Salah satu indikator keberhasilan pendidikan adalah menciptakan kehidupan, pekerjaan dan keluarga yang baik. Saya ingin mengisi kekosongan itu di dalam sistem, sehingga melengkapi satu sama lain," ujarnya.

        Saat ini cara itu, menurut dia, efektif dalam membantu siswa dalam memilih jalur pendidikannya, sehingga bisa mendukung karier yang sesuai dengan kesukaan dan hobi.

        "Kita harus mencari tahu apa yang kita mau, itu dulu, baru setelah itu kita bisa mengubah sesuatu," katanya.

        Sementara itu, CEO Futuready Singapura Delane Lim mengatakan peringkat tinggi dalam sekolah atau kuliah tidak menjamin akan mendapatkan pekerjaan yang layak.

         "Setiap negara memiliki masalahnya masing-masing di dunia pendidikan, yang terpenting adalah membuat pendidikan itu bisa diakses oleh seluruh anak. Pendidikan juga harus menunjang kehidupan dan kehidupan untuk menemukan kebahagiaan," ujar Executive Director for International Centre for Experiential Learning & Leadership (Asia Tenggara) itu.

    
Peran Orang Tua dan Guru
   Dari sisi psikologis, Psikolog Universitas Negeri Jakarta Rahmita P Soendjojo mengatakan tidak terhubunganya antara pendidikan dengan karier itu disebabkan sejumlah faktor, salah satunya belum ada pemahaman yang mendalam dari sisi orang tua untuk mengarahkan anaknya.

        Ia juga tidak menampik bahwa ada unsur pemaksaan dari orang tua untuk memilih jurusan tertentu dalam jenjang pendidikan.

        "Bisa jadi ada unsur pemaksaan kehendak dari orang tua, tapi bisa jadi juga anak belum berkembang kemampuan untuk memilih, sehingga harus menetapkan pilihan, anak bingung," katanya.

        Seharusnya, menurut dia, bimbingan serta arahan itu dilakukan sejak di usia dini untuk memupuk pemahaman serta konsekuensi dalam pengambilan keputusan.

        "Melatih anak dengan selalu memberikan alternatif pilihan, membangun dialog yang baik antara orang tua dan anak, membahas setiap pilihan yang anak ambil, sehingga anak tahu konsekuensinya dan orang tua tahu alasannya," katanya.

        Selain peran orang tua yang sangat penting, Rahmita menilai sistem pendidikan di Indonesia juga belum mendukung seluruh aspek, sehingga anak dihadapkan dengan profesi yang populer dan itu-itu saja, contoh dokter, pilot atau tentara.

        "Belum terlalu mengapresiasi pada pendidikan keterampilan," ujarnya.

        Sementara itu, Psikolog Rumah Sakit Pondok Indah Bintaro Jaya Jane Cindy menilai orang tua bukan satu-satunya faktor, tetapi seseorang bisa saja baru menyadari ketika bekerja bahwa pekerjaannya tidak sesuai dengan hasrat atau "passion"-nya.

        Untuk itu, dalam hal ini, peran orang tua dan guru sangat penting dalam mengarahkan pendidikan anak, namun juga tidak dengan memaksakannya.

        Ia menambahkan bahwa di Indonesia, sebagian besar orang tua masih berharap sang anak berprofesi sama dengannya.

        "Atau jurusan favorit yang dinilai lebih menjanjikan dalam berkarier," ujarnya.

        Karena itu, menurut Jane, sikap terbuka orang tua diperlukan dan memberikan kesempatan bagi anak untuk bereksplorasi bidang akademis maupun nonakademis sejak dini.

        "Peran orang tua dan guru sangat besar dalam pendidikan anak. Idelanya orang tua dan guru saling bekerja sama dalam menanamkan konsep diri yang positif, kepercayaan diri dan memberikan kesempatan kepada anak untuk menggali minatnya," katanya.
Pewarta :
Editor: Laode Masrafi
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar