Rabu, 18 Oktober 2017

Khataman Alquran Di Mamuju Masuk Rekor MuRI

id khataman alquran, muri, tpa
Khataman Alquran Di Mamuju Masuk Rekor MuRI
Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin bersama Bupati Mamuju Habsi Wahid saat mengikuti prosesi "Sayyang Pattuddu" atau kuda menari pada Festival Budaya Islami dan Khataman Alquran di Mamuju, Selasa (25/7). (ANTARA FOTO/Amirullah)
Mamuju (Antara Sulbar) - Khataman Alquran yang dilaksanakan Pemerintah Kabupaten Mamuju Provinsi Sulawesi Barat dengan diikuti 7.768 santri yang berasal dari 101 Taman Pendidikan Alquran (TPA) yang ada di daerah itu masuk Museum Rekor Indonesia (MuRI).

Pencatatan rekor MuRI pada Khataman Alquran dengan peserta terbanyak yang berlangsung di Anjungan Pantai Manakarra, pada Selasa sore itu, ditandai penyerahan piagam dan sertifikat dari perwakilan Muri yang diterima Bupati Mamuju Habsi Wahid, Kepala Kantor Kementerian Agama setempat serta Kapolres.

Khataman Alquran masuk rekor MuRI itu disaksikan langsung Menteri Agama Republik Indonesia Lukman Hakim Saifuddin bersama istri, Wakil Gubernur Sulbar Enny Angraeni Anwar, Kapolda Brigjen Polisi Nandang, Bupati Mamuju Habsi Wahid, para tokoh masyarakat, tokoh agama serta para santri dari 101 TPA.

Dari D`Maleo Hotel tempat beristirahat, Menteri Agama bersama rombongan didampingi Bupati Mamuju dan Wakil Gubernur Sulbar serta Kapolda mengikuti prosesi "Sayang Pattuddu" atau menunggung kuda menari, salah satu tradisi masyarakat Mandar setiap kegiatan Khatam Alquran.

Dalam perjalanan yang berjarak sekitar 300 meter tersebut, kuda-kuda yang ditunggangi rombongan Menteri Agama dan para pejabat Pemprov Sulbar dan Pemkab Mamuju itu terlihat menari-nari, seolah mengikuti alunan musik rebana yang ditabuh para pengiring.

Bupati Mamuju Habsi Wahid mengatakan, Khataman Alquran masuk rekor Muri itu, diikuti 7.768 santri dari 88 desa dan 13 kelurahan yang ada di daerah itu.

"Khataman Alquran dengan peserta terbanyak ini merupakan bagian dari komitmen Pemerintah Kabupaten Mamuju untuk mengentaskan buta aksara Alquran. Setiap tahun, sebanyak 5.000 santri dikhatamkan dan tahun ini merupakan peserta terbanyak yang berasal dari 101 TPA binaan pemerintah kabupaten yang tersebar dari 88 desa dan 13 kelurahan," kata Habis Wahid.

Selain Khataman Alquran dan tradisi "Sayang Pattuddu" kegiatan yang dikemas dalam acara Festival Budaya Islami itu, juga dimeriahkan dengan pertunjukan musik gambus, rebana tradisional serta hadrah.

Menteri Agama Republik Indonesia Lukman Hakim Saifuddin memberi apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Mamuju yang dinilai telah menjaga dan melestarikan warisan budaya dari ulama terdahulu.

"Kegiatan seperti ini merupakan tradisi yang telah diwariskan para guru dan ulama kita. Namun, tradisi seperti ini sudah lama ditinggalkan dan tentu kami mengapresiasi serta memberi penghargaan kepada Pemerintah Kabupaten Mamuju yang berkomitmen terus menjaga dan melestarikan Alquran sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan kita," ujarnya.

"Festival Budaya Islami sekaligus Khataman Alquran dari para santri dari TPA yang dibina Pemerintah Kabupaten Mamuju ini, tentu layak diberi penghargaan dan tercatat di Uri sebagai sebuah prestasi yang patut disyukuri," terang Lukman Hakim.

Menteri Agama itu juga mengajak seluruh masyarakat, khususnya di Provinsi Sulawesi Barat dan Kabupaten Mamuju untuk terus menjaga, merawat dan melestarikan berbagai warisan budaya yang telah ditinggalkan para ulama serta guru.

Sementara, Wakil Gubernur Sulbar Enny Angraeni Anwar mengatakan, prosesi "Sayang Pattuddu" atau menunggung kuda menari sudah menjadi tradisi masyarakat di daerah itu yang setiap tahun dilaksanakan.

Pemerintah Provinsi Sulbar dan pemerintah kabupaten kata Wabub, akan terus menjaga nilai-nilai budaya yang ada di daerah itu sebagai upaya menjaga kearifan lokal.

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga