Minggu, 22 Oktober 2017

Menko Maritim Putuskan Sulsel Pusat Produksi Garam

id menko maritim, luhut binsar panjaitan, garam, unhas
Makassar (Antara Sulsel) - Menko Maritim Luhut Binsar Panjaitan memutuskan Sulawesi Selatan sebagai salah satu pusat produksi garam nasional untuk menanggulangi krisis garam seperti yang terjadi belakangan ini.

Rektor Unhas Prof Dr Dwia Aries Tina Pulubuhu MA di Makassar, Rabu, mengatakan telah melaporkan jika pihaknya sudah melakukan pendampingan industri garam di Kabupaten Jeneponto dan Takalar.

"Setelah kami laporkan, Menko Maritim akhirnya memutuskan untuk menjadikan daerah ini sebagai pusat garam nasional. Apalagi bapak gubernur melaporkan ternyata produksi garam ada juga di Selaayar dan Pangkep (selain Jeneponto dan Takalar)," katanya.

Ia menjelaskan, pihaknya juga sudah mendengar langsung ajakan dari Menko Maritim untuk terlibat dalam pembangunan pabrik garam seluar 5.000 hektar di Kupang. Ajakan itu tentunya sebuah penghargaan tersendiri bagi Unhas.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi Selatan, Sulkaf S Latief sebelumnya mengatakan pihaknya akan memfokuskan pengembangan usaha garam rakyat sebagai salah satu prioritas program.

"Ada empat kabupaten sentra produksi garam di Sulsel yaitu Takalar, Jeneponto, Selayar dan Pangkep. Kita memiliki program pengembangan usaha garam rakyat di tahun 2017 ini," katanya.

Sementara Kepala Bidang Pengembangan dan Penataan Ruang Laut, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Nasir Malawi mengakui luas areal potensial untuk produksi garam mencapai 1962 ha.

"Dari luas area potensial tersebut, luas area produksi dari program Pengembangan Usaha Garam Rakyat (Pugar) mencapai 900 ha, sementara di luar Pugar seluas 300 ha," kata Nasir.

Ia mengatakan, pada tahun 2016 lalu, produksi garam Sulsel anjlok ke angka 13 ribu ton per tahun, padahal di tahun 2015 produksinya mencapai 115 ribu ton.

Menurut Nasir, penurunan produksi yang cukup signifikan ini, sangat dipengaruhi oleh kondisi cuaca di tahun 2016.

Pada tahun 2015 musim kemarau cukup panjang sehingga produksi bisa optimal, sementara di tahun 2016 musim hujan mulai datang sejak bulan September, sehingga praktis hanya sekitar dua bulan waktu berproduksi.

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga