UIM Hadirkan Quraish Shihab Bahas Islam Moderat

id uim, islam moderat, quraish shihab

Makassar (Antara Sulsel) - Universitas Islam Makassar (UIM) menggelar Halaqah Nasional Radikalisme dan Wasathiyah dengan menghadirkan pembicara Profesor HM Quraish Shihab, Direktur Pusat Studi al-Qur`an.

Menurut Rektor UIM Dr Majdah Agus A.N. di Makassar, Kamis, halakah tersebut merupakan kerja sama UIM dengan Pengurus Wilayah NU Sulawesi Selatan, Kementerian Agama Kota Makassar, Ikatan Cendikiawan Alumni Timur Tengah (ICATT), dan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Sulsel.

"Kami sangat berterima kasih kepada Prof Quraish yang telah menyempatkan diri hadir, semoga membawa keberkahan di kampus kami," katanya.

Dia mengatakan mulai tahun ini UIM membuka Prodi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir.

"Kami mohon arahan dan binaan Prof Quraish yang juga pakar tafsir Al-Qur`an" ungkap Majdah.

Selain itu, katanya, UIM sebagai perguruan tinggi Nahdlatul Ulama menjadi pusat kajian Aswaja di Sulawesi Selatan.

"Sehingga diharapkan melahirkan generasi muslim yang moderat," ujar Majdah.

Rais Syuriah Pengurus Wilayah NU Sulsel Anre Gurutta Sanusi Baco dalam sambutannya menyampaikan bahwa pembinaan umat saat ini tidak bisa hanya bermodalkan semangat berapi-api, tetapi harus dibarengi dengan strategi.

"Itulah yang disebut `wasathiyah` atau moderat," katanya.

Gurutta Sanusi juga bercerita tentang peran Profesor Quraish dalam pembagunan UIM.

"Prof Quraish banyak membantu pada masa awal berdirinya Kampus Al-Gazali yang merupakan cikal bakal dari Universitas Islam Makassar, Gedung Rektorat UIM merupakan bantuan yang didatangkan melalui beliau," katanya.

Quraish mengungkapkan radikalisme adalah buah dari ekstremisme.

Ekstremisme, ujarnya, dapat diartikan tingkat yang tertinggi, dapat pula diartikan memaksakan kehendak sehingga ekstremisme harus diobati atau dihilangkan.

"Dalam ajaran Islam mengarah kepada hal `wasathiyah`, yaitu dapat menerima siapapun, muslim ataupun nonmuslim. Selain itu, yang menyebabkan orang berpaham radikal atau menyimpang dari `wasathiyah` adalah karena kurangnya pengetahuan orang tersebut , inilah yang terjadi saat ini," katanya.

Pada kesempatan itu, Prof Quraish bercerita ketika bersama Gurutta Sanusi belajar di Mesir serta memuji perkembangan UIM yang dahulu bernama Al-Gazali.

"Perkembangan pesat UIM saat ini tidak lepas keikhlasan para pencetusnya, termasuk Gurutta Sanusi Baco," katanya.
Pewarta :
Editor: Daniel
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar