Jumat, 20 Oktober 2017

Serapan Gabah Petani NTT Capai 3.000 Ton

id gabah, bulog ntt
Serapan Gabah Petani NTT Capai 3.000 Ton
Ilustrasi-Petani membersihkan padi di Persawahan Kecamatan Gantarang, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, Selasa (11/4). (ANTARA FOTO/Abriawan Abhe)
Kupang (Antara Sulsel) - Perum Badan Urusan Logistik (Bulog) Divisi Regional Nusa Tenggara Timur mencatat realisasi serapan gabah petani lokal di provinsi berbasis kepulauan itu sampai pada akhir September 2017 mencapai 3.000 ton.

"Hingga saat ini gabah yang kita serap dari para petani di NTT baru mencapai 3.000 ton dari target 13.950 ton," kata Kepala Bulog Divre NTT Efdal MS kepada Antara di Kupang, Kamis.

Ia mengatakan realisasi perolehan gabah petani ini diperoleh dari sejumlah daerah di NTT yang memang menjadi penghasil terbanyak, seperti di Rote, Ruteng, Bajawa, Ende, serta Waingapu, Sumba Timur.

Efdal menambahkan dari target yang diberikan pemerintah sebesar 13.950 ton itu harus sudah tercapai pada Desember 2017 nanti. Namun walaupun masih sekitar 98 persen dari yang diharapkan namun ia tetap optimis bahwa target itu akan tetap tercapai.

"Masih ada beberapa bulan lagi kita akan usahakan agar bisa tercapai yang ditargetkan oleh pemerintah," ujarnya.

Ia mengatakan belum tercapainya serapan gabah petani tersebut karena beberapa kendala. Seperti gagal panen, serta serangan hama di beberapa derah salah satunya yang terjdi di Waingapu, Sumba Timur yang menjadi salah satu daerah pemasuk gabah petani.

Berbagai cara lanjutnya sudah dilakukan agar serapan itu bisa tercapai dengan terus bekerja sama dengan TNI dalam melakukan penyerapan.

Sejumlah strategi dan upaya dalam rangka peningkatan penyerapan gabah petani dari berbagai daerah di provinsi kepulauan itu juga dilakukan.

Sementara itu Kabid Pengadaan Forum Bulog Divre NTT Alexander S Malelak beberapa strategi yang digunakan adalah mensosialisasikan penyerapan gabah atau beras petani bersama TNI dan dinas pertanian kepada kelompok tani sekaligus membuat komitmen untuk penyerahan beras hasil produksi kelompok tani kepada pemerintah melalui Perum Bulog.

"Di samping itu juga kita lakukan monitoring secara internal atau bersama dengan TNI ke penggilingan-penggilingan maupun lokasi persawahan untuk mengetahui perkembangan situasi panen," ujarnya.

Tak hanya itu, Bulog juga lanjut pria yang biasa disapa Aleks ini mengaku, koordinasi dengan sejumlah pihak juga terus dilakukan, kemudian juga bersama TNI melaksanakan panen simbolis di beberapa wilayah produsen.

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga