Logo Header Antaranews Makassar

PMII Makassar Kembali Tuntut Polisi Minta Maaf

Sabtu, 4 November 2017 23:30 WIB
Image Print
Ilustrasi Unjuk Rasa (Antara News)
Tuntutan mereka sederhana dan wajar, meminta polisi bertanggungjawab dan meminta maaf atas kejadian pemukulan oknum anggota Polri di bawah jembatan layang 28 Oktober lalu,"

Makassar (Antara Sulsel) - Organisasi eksternal kampus Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Makassar kembali menuntut Kepolisian Resor Kota Besar Makassar minta maaf secara terbuka terkait dugaan pemukulan oknum aparat saat peringatan Hari Sumpah Pemuda.

"Tuntutan mereka sederhana dan wajar, meminta polisi bertanggungjawab dan meminta maaf atas kejadian pemukulan oknum anggota Polri di bawah jembatan layang 28 Oktober lalu," tegas Ketua Majelis Pembina Cabang (Mabincab) PMII, Siful Jihad di Makassar, Sabtu.

Menurut dia, ada dua hal yang menjadi tuntutan mahasiswa, yakni mendesak Kapolrestabes Makassar segera meminta maaf atas tindakan represif anggotanya saat membubarkan aksi damai mahasiswa pada momen peringatan Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 2017.

Pembubaran paksa tersebut, kata dia dinilai tidak sesuai slogan Polri, karena ada perlakukan dan tindakan arogan aparat diduga memukuli mahasiswa yang mengakibatkan luka sampai berdarah hingga lebam karena pukulan aparat kala itu.

Tidak sampai disitu, ujar Dosen Universitas Hasanuddin ini, adanya tudingan bernada pelecehan yang dialamatkan kepada Kapolda Sulsel melalui media sosial whatsapp bahwa PMII mencari perhatian sehingga aksi itu dibubarkan, semuanya adalah permainan oknum.

Saiful menilai urusan aksi demonstrasi yang dilakukan PMII Cabang Makassar dalam menyampaikan pendapat dimuka umum dan sudah sesuai aturan undang-undang sebenarnya sederhana, kalau pihak kepolisian mau aksi ini segera berhenti dilakukan dengan cara lebih humanis, bukan anarkis.

Untuk itu, pihaknya meminta kepolisian segera menyikapi tuntutan PMII Cabang Makassar secara bijak guna mengakhiri persoalan tersebut yang terus berpolemik hingga aksi unjukrasa.

"Adik-adik mahasiswa tidak butuh yang lain, mereka butuh mengembalikan marwah gerakan mereka yang murni tanpa ditunggangi kepentingan apapun, serta mengembalikan marwah organisasi mereka yang dianggap dilecehkan oleh oknum kepolisian," tegasnya.

Atas nama alumni PMII yang pernah merasakan idealisme sebuah pergerakan, Saiful mengimbau kepolisian bisa lebih bijak dalam merespon tuntutan mereka tersebut.

Sebelumnya, aksi mendesak Kapolrestabes Makassar meminta maaf atas inseden itu dan meminta Wakil Kepala Polretabes Makassar AKBP Hotman Sirat segera diganti terus dilakukan kader PMII Cabang Makassar malam tadi.

Ketua PC PMII Makassar Ashari Bahar dalam aksi Jumat (3/11) malam di bawah jembatan layang Makassar, menegaskan unjukrasa tersebut merupakan bentuk kekecewaan terhadap Kapolrestabes Kombes Anwar Efendi dan Dir Intelkam Polda Sulsel terkesam tidak peduli.

"Kami menuntut dan mendesak Kapolda Sulsel untuk mengintruksikan Dir Intelkam Polda dan Kapolrestabes selaku anak buahnya meminta maaf secara kelembagaan terhadap PMII yang telah mereka lecehkan," tegas dia.

Tindakan represif aparat kepolisian yang membubarkan paksa jalannya unjukrasa memperingati Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober dinilai sangat tidak professional dan mencenderai lembaga PMII secara keseluruhan.

Azhari meminta pertanggungjawaban Kapolrestabes dan Polda Sulsel segera mengevaluasi anak buahnya terkait dugaan penganiayaan terhadap empat kader PMII yang ditangkap saat menyampaikan aspirasi.

Selain itu, pengamanan yang dipimpin Wakapolrestabes Makassar AKBP Hotman Sirait saat itu, mengakibatkan kader PMII mengalami luka memar dan berdarah hingga mengalami cedera pada bagian tulang. Tidak hanya itu atribut PMII diduga turut dibakar oknum.

"Kami tidak akan berhenti sampai kapan pun, sebelum oknum kepolisian ini yang telah melecehkan organisasi kami meminta maaf selanjutnya di copot dari jabatannya. Kami akan terus berdemo bahkan memassifkan gerakan untuk aksi selanjutnya pada Senin depan di Markas Polda Sulsel," ucapnya menegaskan.



Pewarta :
Editor: Amirullah
COPYRIGHT © ANTARA 2026