Mengenang Jasa Pahlawan Ala Datu Luwu

Pewarta : id hari pahlawan, datu luwu, andi djemma, tmp panaikang

Cucu Pahlawan Nasional Andi Djemma, sekaligus Datuk Luwu, Andi Maradang Mackulau, Opu To Bau (kedua kanan) mengikuti prosesi adat 'Masomppa' sekaligus berziarah ke makam Andi Djemma di TMP Panaikang, Jumat (10/11). (ANTARA FOTO/Darwin Fatir)

Makassar (Antara Sulsel) - Tanggal 10 November selalu menjadi momen spesial untuk mengenang jasa para pahlawan. Mulai dari acara seremonial hingga yang berbau hiburan pun digelar di seantero Nusantara.

Namun ada pemandangan yang berbeda dalam mengenang jasa pahlawan nasional pada peringatan Hari Pahlawan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Panaikang, Makassar, kala itu.

Sekelompok iring-iringan yang mengenakan baju adat "baju bodo" bagi perempuan dan "songkok guru" bagi laki-laki yang dipadukan dengan kain sutera memasuki TMP Panaikang, Makassar.

Lelaki dan perempuan paruh baya yang berjalan paling depan, didampingi beberapa orang yang mengenakan baju adat sambil memegang payung kerajaan yang mirip karpet yang setiap sisinya diberi tonggak untuk pegangan.

Lelaki itu adalah Datu (Raja) Luwu, TopapoataE Andi Maradang Mackulau bersama permaisurinya Opu Datu Lina Wiadiastuti. Kerajaan Luwu merupakan salah satu dari tiga kerajaan besar di Sulawesi Selatan (Sulsel) yang masih menjaga adat-istiadat dan silsilah turunan rajanya masih terus berjalan.

Setiba di salah satu makam yang di nisannya tertulis Datu Andi Djemma yang merupakan salah seorang pahlawan nasional ini, ritual adat Luwu pun digelar yang dinamakan "Massampo Kubburu".

Anyaman daun pandan yang dibuat menyerupai tikar ditutupkan ke gundukan tanah kuburan almarhum Datu Luwu yang diikuti dengan penutupan mahkota berbahan dasar daun pandan pada nisannya. Kemudian dilakukan penyiraman air dari ceret yang terbuat dari kuningan.

Doa dengan lantunan ayat-ayat suci Al-Quran pun terdengar lirih yang diikuti suara "aamiin" dari para peziarah.

"Ini adalah bentuk penghormatan kami selaku keturunan Datu Andi Djemma dan sebagai warga negara yang menghargai jasa pahlawannya," kata Andi Maradang.

Dia mengatakan, dengan berziarah dan melaksanakan ritual adat Luwu ini, diharapkan sifat patriotisme dan jiwa kepemimpinan yang mendahulukan kepentingan rakyat dapat dicontoh oleh generasi penerus.

Wujud penghargaan dan terima kasih bukan saja ditunjukkan oleh turunan Datu Luwu, namun Pemerintah Kota Makassar juga memberikan apresiasi berupa perubahan nama salah satu jalan di Kota Makassar yang semula Jalan Landak, kemudian diubah menjadi Jalan Andi Djemma.

"Pemberian nama jalan ini sudah diatur oleh Peraturan Wali Kota untuk memberi ruang pada pahlawan yang sudah berjasa bagi negara dan Sulsel pada khususnya," ungkap Wakil Wali Kota H Syamsu Rizal MI.

Menurut dia, usulan pemberian nama jalan tersebut sudah dilakukan sejak 2007 pada masa Wali Kota H Ilham Arif Sirajuddin, namun baru terwujud pada peringatan Hari Pahlawan 2017 dan bertepatan dengan peringatan HUT ke-410 Kota Makassar. Hal itu karena Pemkot Makassar berusaha memberikan tempat yang proporsional.

"Nama jalan Andi Djemma sendiri sebenarnya sudah lama menjadi usulan apalagi Andi Djemma adalah salah satu nama pahlawan nasional yang juga tokoh dari tanah Luwu itu sendiri," katanya.

Penggantian nama jalan itu diupacarakan sesuai dengan adat Kerajaan Luwu yang dikenal dengan istilah "Maccera Laleng" yang ditandai dengan pemecahan kendi dan disaksikan langsung Datu Luwu, Andi Maradang Mackulau beserta tamu-tamu kehormatan.

Menanggapi pemberian nama Andi Djemma itu menggantikan nama Jalan Landak, Datu Luwu, Andi Maradang mengatakan, pihaknya sangat mengapresiasi pemerintah Kota Makassar yang turut memberikan rasa bangga pada masyarakat Luwu.

"Tentu ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Luwu dan keturunan Datu Luwu pada khususnya, karena pemerintah memberikan apresiasi yang terbaik," ujarnya.

Mengenal Andi Djemma

Datu Andi Djemma yang lahir pada 15 Januari 1901 dalam perjalanan hidupnya banyak memberikan sumbangsih bagi orang-orang sekitarnya, termasuk berjuang untuk kemerdekaan Republik Indonesia (RI).  

Tak heran jika pemerintah Indonesia pada 8 November 2002 menetapkan Andi Djemma sebagai Pahlawan Nasional.

Di antara sejumlah kiprahnya, menjelang kemerdekaan Indonesia pada 15 Agustus 1945, Andi Djemma memimpin "Gerakan Soekarno Muda" dan memimpin Perlawanan Semesta Rakyat Luwu, 23 Januari 1945. Tanggal inilah yang kemudian diperingati sebagai Hari Perlawanan Rakyat Semesta (Permesta).

Pada 5 Oktober 1945, putra Kerajaan Luwu ini sempat mengultimatum pihak Sekutu agar segera melucuti tentaranya dan kembali ke tangsinya di Palopo, Sulsel.  

Ultimatum itu kemudian dibalas Gubernur Jenderal Belanda, Van Mook dengan ultimatum juga.

Andi Djemma baru tertangkap Belanda pada 3 Juli 1946 dan diasingkan ke Ternate, hingga akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya di Makassar pada 23 Februari 1965.

Potret Andi Djemma hanya salah seorang dari sekian banyak pahlawan nasional yang telah mewakafkan jiwa dan raganya untuk negara dan bangsa.

Sementara bentuk penghormatan maupun peringatan pada jasa pahlawan, tidaklah cukup untuk membuat para pahlawan dapat tersenyum di alam baqa', karena masih banyaknya kasus korupsi, perusak lingkungan, tindak pidana dan lunturnya budaya saling menghormati dalam mengisi kemerdekaan ini.
Editor: Daniel
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar