Mengintip Aktivitas Para Penghulu Kakao PT Mars

id Mars, kakao

Penghulu kakao melakukan proses perkawinan kakao di Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan, Senin (20/11). (ANTARA FOTO/Abd Kadir)

Tidak masuk dalam jajaran manajemen ataupun pemegang salah satu jabatan strategis di PT Mars Symbioscience Indonesia, tetapi peran para penghulu atau istilah kerennya polinasi memang tidak dapat disepelekan.

Justru melalui keterampilan dan kemampuan jari-jemari para penghulu kakao inilah potensi untuk mendapatkan buah kakao dengan jenis berbeda atau klon baru bisa dihasilkan.

Kinerja para penghulu ini pula tentu saja dapat meningkatkan jumlah produksi kakao perusahaan bisa berlangsung lebih cepat daripada menunggu bantuan serangga atau alam untuk melakukan penyerbukan.

Peran itulah yang dimiliki Nirwana, Ketua Tim Polinasi PT Mars Indonesia, bersama para anggotanya sehingga produsen cokelat M & M tersebut tetap tumbuh dan berkembang hingga kini.

Sebelum memulai proses "perkawinan", para pengulu kakao PT Mars Indonesia yang diketuai Nirwana, lebih dahulu mempersiapkan berbagai keperluan, seperti alat penjepit, kaus tangan, pipa penutup, dan tentu saja serbuk sari atau modifikasi sperma yang telah diambil di pohon yang lainnya.

Setelah itu, para penghulu kakao dibagi dalam beberapa kelompok yang tujuannya agar kerja bisa lebih cepat dan dapat melakukan proses perkebunan yang lebih banyak.

Dengan konsentrasi dan kehati-hatian yang tinggi karena ukuran putik yang begitu halus, para penghulu mengambil serbuk sari dari toples khusus yang cukup mini dengan alat penjepit yang sudah ada di antara jari-jari tangan.

Selanjutnya, mendekatkan serbuk sari ke putik bunga kakao berdiameter kurang lebih 3 cm yang ingin dikembangkan dengan bantuan penjepit.

Antara serbuk sari dan putik kakao kemudian saling ditempekkan dan digesek-gesekkan beberapa kali untuk lebih memaksimalkan penyerbukan atau perkawinan.

Setelah dilihat sudah cukup, para penghulu kakao mengambil pipa penutup yang salah satu lubangnya ditutup dengan saringan dan ditempelkan ke putik yang telah dibuahi tersebut.

Alat penutup ini sendiri fungsinya untuk menghindarkan putik yang sudah dibuahi untuk kembali diganggu atau dibuahi serangga yang lain. Kondisi tersebut di kalangan penghulu kakao juga cukup dikenal dalam istilah perselingkuhan.

Untuk penyerbukan bunga kakao sendiri, bisa dilakukan oleh berbagai jenis serangga, seperti lalat kecil (midge) Forcipomyia, semut bersayap, afid, dan beberapa lebah Trigona juga mampu melakukan hal itu.
Jika ada serangga yang kembali melakukan penyerbukan atau membawa serbuk sari ke putik yang telah dikawinkan, akan sulit mendeteksi gen mana yang akhirnya sukses.

"Jadi, saya tutup putik yang telah dikawinkan agar bisa mengetahui hasil buah ini dari induk yang mana," kata Nirwana.

Setelah melakukan polinasi, tim menunggu hingga kurang lebih 6 bulan kedepan untuk bisa dilihat hasilnya sekaligus dipanen.

Untuk tingkat pembuahan setelah dilakukan proses perkawinan oleh para penghulu, memang tidak bisa diprediksi. Alasannya tentu karena masih terpengaruh oleh beberapa hal, khususnya kondisi cuaca di daerah tersebut.

Tidak ada kepastian atau jaminan berapa persen hasil perkawinan dengan tenaga penghulu atau polinasi yang dapat menjadi buah dan dipanen. Namun, jika bergantung dengan alam, termasuk bantuan serangga ataupun angin, dianggap lebih besar.

Para penghulu tentunya juga memiliki perasaan yang bahagia jika kakao yang dikawinkan dapat menjadi buah yang subur dan dapat dipanen.

Begitu pula sebaliknya, ada perasaan sedih jika gagal menjadi bauh. Namun, hal itu tidak menyurutkan semangat para penghulu kakao untuk bisa mendapatan kakao jenis baru dan terbaik.

Selain itu, tenaga penghulu kakao juga dapat melahirkan lebih banyak kakao jenis baru. Ini pula yang menjadi fokus penelitian dari PT Mars Indonesia untuk mendapatkan jenis kakao yang lebih kuat dan tinggi lemak.

103 Jenis Baru

Perseroan Terbatas (PT) Mars Symbioscience Indonesia dengan segala sumber daya manusianya, termasuk di antaranya para penghulu kakao atau tim polinasi, berhasil melahirkan 103 kakao jenis baru yang dinilai lebih kuat, aman, dan dapat berproduksi lebih besar.

Ratusan kakao jenis baru itu didapatkan melalui persilangan sebanyak 45.000 pohon baru sejak 2014 dan kini telah tumbuh subur di area PT Mars di kabupaten tersebut.

Untuk uji coba penanamannya, sudah dilakukan di Kabupaten Luwu Timur Sulawesi Selatan dan beberapa daerah yang lain. Keputusan menanam di daerah yang lain dengan kondisi cuaca ekstrem dan tidak mudah diprediksi untuk melihat kekuatan dari kakao generasi baru itu untuk bisa dikembangkan lebih jauh.

Ratusan kakao generasi baru itu memang masih perlu pengujian lebih jauh sebelum ditanam secara massal. Apalagi, pihaknya ingin melihat kakao jenis mana saja yang bisa bertahan di suatu daerah yang berbeda sehingga bisa diantisipasi.

Sebanyak 103 kakao jenis baru itu, kata Nirwana, terus diuji coba hingga 10 tahun. Artinya, jika ditemukan sejak 2014, baru diketahui hasilnya apakah layak ditanam atau tidak pada tahun 2024.

Mengenai upaya menciptakan kakao jenis baru lagi ke depan, menurut dia, masih akan berkembang meski untuk fokus saat ini melihat potensi kakao yang ada untuk bisa ditanam di berbagai daerah secara massal.
Pewarta :
Editor: Daniel
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar