KPPPA Kampanyekan "Stop" Perkawinan Anak di Sulsel

id dian kartika sari, sekjen koalissi perempuan indonesia, kampanyekan stop perkawinan anak

KPPPA Kampanyekan "Stop" Perkawinan Anak di Sulsel

Ilustrasi Stop Perkawinan Anak (ist)

Perlu diingat bahwa masa anak-anak adalah masa yang tidak pernah berulang. Mereka harus mendapatkan pendidikan yang baik pada era digital saat ini, sehingga mampu melanjutkan pembangunan daerah,"
Makassar (Antara Sulsel) - Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) mengkampanyekan "Gerakan Bersama Stop Perkawinan Anak" di Provinsi Sulawesi Selatan.

"Sulsel merupakan provinsi keempat dari rangkaian road show Gerakan Stop Perkawinan Anak yang akan digelar di lima daerah di Indinesia," kata Sekjen Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) Dian Kartika Sari pada pembukaan kampanye tersebut di Makassar, Jumat.

Sebelumnya, kampanye serupa telah diselenggarakan di tiga provinsi lainnya, yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur.

"Provinsi terakhir yang dibidik oleh KPPPA adalah Nusa Tenggara Barat pada 10 Desember mendatang," kata dia.

Gerakan Bersama Stop Perkawinan Anak ini diinisiasi dan dikoordinasikan oleh Deputi Menteri Bidang Tumbuh Kembang Anak KPPPA bekerjasama dengan 13 kementerian/lembaga dan lebih dari 30 Organisasi/lembaga masyarakat yang bergerak di bidang pendampingan anak dan perempuan, dunia usaha, dan media.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Provinsi Sulsel Andi Murlina mengapresiasi pelaksanaan kampanye tersebut di Sulsel.

Menurut Andi Murlina, angka perkawinan anak Sulsel memang cukup tinggi, meskipun berbagai upaya sudah dilakukan Pemerintah Provinsi Sulsel untuk mencegah hal ini.

Dirinya menegaskan Sulsel telah memiliki payung hukum yang mengamanahkan kepada masyarakat dan orang tua agar melindungi dan mencegah, serta tidak membiarkan terjadinya perkawinan anak.

"Perlu diingat bahwa masa anak-anak adalah masa yang tidak pernah berulang. Mereka harus mendapatkan pendidikan yang baik pada era digital saat ini, sehingga mampu melanjutkan pembangunan daerah," ujarnya.

Sementara Ketua Panitia Gerakan Stok Perkawinan Anak, Waliah Syafei mengatakan kampanye antiperkawinan anak sudah sering digelar, namun masih terpisah-pisah.

"Melalui gerakan bersama ini kita dapat membangun sinergi bersama antarpemangku kepentingan agar bisa didengar semua pihak," kata dia.

Kampanye yang dirangkaikan dengan talkshow dan deklarasi Gerakan Bersama Stop Perkawinan Anak yang dihadiri Staf Khusus Menteri PPPA Fernandez Hutagalung yang mewakili Menteri PPPA/Kepala Badan PP, disambut antusisas dari berbagai unsur masyarakat, antara lain aktifis LSM, para pelajar, unsur Dinas PPPA kabupaten/kota, PKK, Dinas Kesehatan, dan Kementerian Agama.   
Pewarta :
Uploader: Daniel
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar