Merajut Tradisi Leluhur Melalui Taman Budaya

id Taman budaya, sulbar, polewali mandar

Foto arsip-Gubernur Sulbar, ALi Baal Masdar meninjau rencana lokasi pembangunan kawasan Taman Budaya di Buttu Cipping, Tinambung, Sabtu (2/12). (FOTO/Humas Pemprov Sulbar)

Kebiasaan atau tradisi nenek moyang kita yang terjadi beratus-ratus tahun lalu tentu tidak akan diketahui sampai saat ini jika tidak dijaga dan terus dilestarikan.

Begitu pula, jika saat ini kita tidak merajut tradisi turun-temurun, anak cucu kita nanti tidak akan mengetahui akar budaya bangsa Indonesia yang bersumber dari beragam suku dan budaya.

Keinginan merajut tradisi leluhur sebagai gerbang budaya masa silam itu disampaikan Gubernur Sulawesi Barat Ali Baal Masdar pada kegiatan Festival Budaya XIII yang digelar dalam rangka memperingati HUT Ke-58 Kabupaten Polewali Mandar mencetuskan gagasan revitalisasi budaya.

Ali Baal Masdar yang akrab disapa ABM pun mengajak masyarakat di daerah itu untuk menggiatkan revitalisasi budaya dengan nilai-nilai yang dapat mengakar di segala aspek kehidupan dan dapat membuat masyarakat di daerah itu semakin produktif, inovatif dan berdaya saing.

Anak-anak muda harus terus kreatif dalam berinovasi, tetap menjaga dan melestarikan yang sudah ada. Mari mengembangkan teknologi dan tetap menjaga bahan baku karena jangan sampai bahan baku makin menipis dan teknologi baru juga tidak ada, kata Ali Baal Masdar.

Festival Budaya XIII juga dimeriahkan dengan karnaval yang diikuti 16 kecamatan di daerah itu.

Setiap peserta berlomba-lomba merangkai sejarah dengan menampilkan pakaian dan berbagai pernak-pernik khas Mandar yang menunjukkan untaian tradisi masa lalu. Kegiatan ini bertujuan menumbuhkembangkan seni budaya di Polewali Mandar, terutama seni budaya Mandar.

Sebagai pencetus festival budaya ketika menjabat sebagai Bupati Polewali Mandar, dia sangat mengapresiasi Pemerintah Kabupaten Polewali Mandar yang setiap tahun melaksanakan karnaval dan pagelaran seni budaya Mandar lainnya sehingga "untaian" sejarah nenek moyang tetap terjaga.

Saat ini, kata dia, hampir semua negara mengembangkan budayanya karena pintu gerbang pariwisata adalah budaya yang harusnya terus berkembang seiring perkembangan dunia.

Dia berharap setiap kabupaten memiliki sanggar binaan dan bersinergi dengan setiap kabupaten. Kalau semua pihak bersinergi, lima tahun ke depan, budaya Sulbar juga akan makin berkembang.

Beberapa tradisi lokal yang harus terus digiatkan di Sulbar, di antaranya layang-layang berbentuk Sandeq, makanan tradisional Jepa, tarian tradisional Sayyang Pattudu dan Passayang-sayang.

Kegiatan budaya harus terus digiatkan di setiap kecamatan yang harus tampak asli tanpa modifikasi. Begitu juga dengan keaslian Sutera Mandar dan tenun Sekomandi dari Kalumpang.

Semua tradisi itu harus dilestarikan. Kalau bisa dimuseumkan pada museum kebudayaan agar anak cucu kita tahu. Jangan biarkan anak cucu kita tidak paham tentang asal usul dan budaya mereka.

Keragaman tradisi Mandar yang ada di Provinsi Sulawesi Barat hanyalah sebagai salah satu kekayaan tardisi dari ribuan seni dan budaya bangsa Indonesia yang dibingkai dalam frasa "Bhinneka Tunggal Ika" yang termaktub pada lambang negara Indonesia, Garuda Pancasila, yang berarti berbeda-beda tetapi tetap satu.

Gerbang Budaya

Dalam mengaktualisasikan komitmen merajut tradisi leluhur, Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat pada tahun 2018 akan membangun taman budaya di Battu Cipping, Kecamatan Tinambung, Kabupaten Polewali Mandar.

Keseriusan membangun gerbang budaya itu juga disampaikan Gubernur Ali Baal Masdar yang menyatakan akan segera menganggarkan pembangunan taman budaya yang lokasinya sudah dibebaskan Pemkab Polewali Mandar tersebut.

Di taman budaya, kata ABM, akan dibangun rumah adat dan terdapat beberapa galeri kebudayaan. Hal ini kelak yang dapat dilihat anak cucu kita pada masa mendatang dan juga turis yang berkunjung.

Di Taman Budaya itulah masyarakat dapat "berfantasi" menuju masa lampau untuk melihat bagaimana leluhur kita melalui peninggalan mereka sebagai jejak kehidupan masa silam.

Dengan menapak jejak kebiasaan dan tradisi nenek moyang kita itulah dia berharap generasi muda dapat mengetahui jati diri bangsa Indonesia sehingga tentunya dapat makin merekatkan persatuan dan persaudaraan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Gubernur juga menyampaikan bahwa Pemprov Sulbar akan membuat program revitalisasi budaya yang diharapkan mendapat dukungan dari DPRD.

Anggaran pembangunan taman budaya tersebut ditaksir hingga miliaran rupiah karena akan dilengkapi rumah adat, termasuk rumah adat serta petugas khusus yang akan bertugas menjaga dan membersihkan rumah tersebut.

Taman budaya yang akan dibangun tersebut lanjut Gubernur direncanakan sebagai salah satu tempat tujuan wisata, baik lokal maupun wisatawan asal mancanegara.

Sementara itu, Bupati Polewali Mandar Andi Ibrahim Masdar mengatakan bahwa pihaknya akan menyiapkan lahan seluas 5 hektare di Kecamatan Tinambung untuk pembangunan kompleks taman budaya itu.

Saat ini, kata Bupati, sudah dibebaskan lahan lebih 1 hektare dan akan ditambah sehingga menjadi 5 hektare.
Dalam kompleks taman budaya, nantinya ada rumah rumah adat model dahulu pada zaman kejayaan kerajaan Balanipa. Selain itu, dilengkapi beberapa fasilitas pendukung lainnya.

Anggaran pembebasan lahan kompleks taman budaya tersebut, kata Andi Ibrahim, berasal dari APBD kabupaten, sedangkan untuk pembangunannya berasal dari APBD provinsi.

Pemkab yang akan membebaskan lahannya, sedangkan pemprov yang anggarkan pembangunannya.
Pembangunan kompleks budaya diprioritaskan di Tinambung, menurut Bupati, karena budaya kearifan lokalnya memiliki daya sangat layak dipromosikan untuk menarik minat para wisatawan berkunjung ke Polewali Mandar.

Objek budaya yang paling menarik dan meriah ada di Tinambung dan Balanipa. Misalnya, ada khataman Alquran selalu disertai adanya rebana dan "Saiyyang Pattuqtuq" (kuda menari), kata Andi Ibrahim.

Keragaman budaya yang dimiliki bangsa Indonesia, tentunya menjadi kebanggan tersendiri. Namun, kebanggaan itu tidaklah cukup jika kita tidak peduli dan hanya membiarkan menjadi sebuah cerita usang.

Diperlukan kepedulian masyarakakat sebagi penjaga tradisi serta komitmen pemerintah agar membangun infrastruktur budaya dalam melestarikan warisan leluhur sebagai perekat persatuan dan kesatuan.

Merangkai masa melalui gerbang budaya, juga tentu dapat menjadi magnet untuk mendatangkan wisatawan berkunjung ke Indonesia yang tentunya akan berdampak pada peningkatan ekonomi masyarakat.
Pewarta :
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar