Tim Unhas edukasi kader polindes Asmat Papua

id tim medis,unhas

Tim Medis Unhas Makassar (seragam almamater berwarna merah) berfoto bersama warga saat melakukan edukasi di Asmat Papua. (Foto Istimewa)

Makassar (Antaranews Sulsel) - Tim medis dan kesehatan Universitas Hasanuddin (Unhas) bekerja sama dengan Dompet Dhuafa dan Wahana Visi menggelar pelatihan medis dan kesehatan kepada kader dan tenaga kesehatan pondok bersalin desa (polindes) di Agats, Kabupaten Asmat, Papua.

Kepala Unit Humas dan Protokoler Universitas Hasanuddin, Ishaq Rahman di Makassar, Minggu mengatakan pelatihan ini bertujuan memberiuan edukasi kesehatan kepada mama-mama kader dan bidan-bidan setempat tentang pentingnya gizi bagi anak-anak.

Kegiatan ini diikuti oleh lima orang mama kader yang berasal dari beberapa kampung untuk menyebarkan edukasi gizi kepada warga kampung sekitar dan tujuh bidan yang bertugas di polindes atau puskermas pembantu.

Seorang anggota tim medis Unhas Prof Dr dr Nurpudji Astuti dalam kesempatan tersebut memberikan persentasi soal gizi dan kesehatan.

Dengan bahasa yang akrab dan sederhana, Nurpudji memberikan gambaran seputar gizi. Di antaranya bagaimana mengetahui anak-anak yang mengalami kekurangan gizi, menemukan dan memanfaatkan jenis makanan lokal yang bergizi untuk anak-anak.

Pudji mengatakan kepada mama-mama kader untuk tidak mengganti jenis makanan setempat dengan jenis pangan luar, misalnya dari mengonsumsi sagu berganti menjadi nasi.

Menurutnya, tersedianya ikan mujair yang berlimpah di Agats itu bisa dijadikan sumber kebutuhan gizi lokal. Namun rupanya, jenis ikan mujair itu sangat jarang dikonsumsi ibu-ibu hamil/menyusui dan anak-anak.

"Saya tidak setuju mama kalau ada makanan di sini diganti dengan nasi. Sagu bagus tapi harus ditambahakan dengan ikan. Ikannya ditumbuk lalu diberikan ke anak-anak. Bayi 7 bulan sudah bisa makan ikan," ujarnya.

Nurpudji juga memberikan edukasi kepada mama-mama kader tersebut untuk memanfaatkan sayur-sayuran yang tersedia di sekitar kampung untuk dikonsumsi.

Kegiatan edukasi ini berlangsung terbuka, cair, dan partisipatif. Para ibu langsung merespons dan mengajukan pertanyaan kepada para guru besar dan dosen Unhas.

Para mama kader pun diajak berdiskusi secara kelompok untuk lebih jauh memberikan penjelasan sekaligus memahami secara dekat persoalan yang dialami ibu-ibu dan anak-anak. Lalu ditanggapi oleh guru besar dengan bahasa sederhana.

"Mama-mama mohon maaf, kita orang datang tidak kasih ceramah. Kita orang mo tau apa masalah mama. Nanti kita bisa bantu," kata Prof Razak Thaha.
Pewarta :
Editor: Laode Masrafi
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar