Taman mangrove Sinjai raup retribusi Rp32 juta/bulan

id andi mandasini, kabid,pariwisata diparbud sinjai,taman mangrove

Kepala Bidang Pariwisata Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Sinjai Andi Mandasini (ANTARA FOTO/Suriani Mappong)

Penerapan program olah petik retribusi untuk setiap pengunjung di lokasi kawasan wisata mangrove ini baru dilakukan pada Desember 2017
Makassar (Antaranews Sulsel) - Pengelolan kawasan Taman Mangrove Tongke-Tongke Kabupaten Sinjai, selama tiga bulan terakhir diterapkan `olah petik` retribusi bagi pengunjung telah meraup pendapatan setiap bulan sekitar Rp32 juta.

"Penerapan program olah petik retribusi untuk setiap pengunjung di lokasi kawasan wisata mangrove ini baru dilakukan pada Desember 2017," kata Kepala Bidang Pariwisata Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Sinjai Andi Mandasini yang dihubungi di Sinjai, Rabu.

Dia mengatakan sebelumnya pengunjung yang masuk ke lokasi ekowisata mangrove itu tidak dikenakan biaya, namun karena alasan pemeliharaan dan pengelolaan, maka diputuskan untuk menarik retribusi kepada pengunjung.

Ia menyebutkan setiap pengunjung yang masuk ke lokasi Taman Mangrove Tongke-Tongke dikenakan sebesar Rp5.000 per orang dewasa dan Rp3,000 per orang untuk anak-anak

Menurut dia, keberadaan hutan mangrove ini bermula dari pengembangan kawasan konservasi yang didukung oleh kelompok sadar wisata Aku Cinta Indonesia (ACI) yang diketuai H Tayyeb tahun 1993.

Hasil dari kerja keras itu, H Tayyeb mendapatkan penghargaan Kalpataru dari Presiden Soeharto sebagai tokoh penyelamat hutan bakau.

Pengembangan bakau di area pesisir pantai Kecamatan Sinjai Timur ini, lanjut Mandasini, untuk melindungi wilayah pesisir dari abrasi gelombang laut.

"Hutan mangrove ini juga menjadi tempat berkembangnya biota laut seperti kepiting bakau dan ikan-ikan kecil untuk bertelur sebelum ke laut lepas," katanya.

Oleh karena itu, kata dia, Pemerintah Kabupaten Sinjai mengembangkan program pengelolaan kawasan mangrove itu, selain untuk menjaga fungsi ekologis, juga menjadikan lokasi ekowisata yang bisa dimanfaatkan bagi kepentingan publik sekaligus memberikan kontribusi terhadap pendapatan asli daerah itu.

Ia menjelaskan pihak Kementerian Kelautan dan Perikanan memberikan bantuan pendanaan untuk pengelolaan kawasan mangrove ini, termasuk menyiapkan sejumlah fasilitas seperti tempat `jogging tracking`, kafe terapung dan pondok informasi.
Pewarta :
Editor: Amirullah
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar