Fotografer AFP berbagi pengalaman di Makassar

id afp,Agence France Presse ,Adek Berry,ilmu fotografi,fotografer

Jurnnalis foto AFP Indonesia Adek Berry (kanan) berbagi pengalaman seputar ilmu fotografi jurnalis kepada para pewarta foto, mahasiswa dan komunitas klub foto di Makassar, Senin (5/3). (ANTARA FOTO/Darwin Fatir)

Makassar (Antaranews Sulsel) - Fotografer kantor berita Agence France Presse (AFP) biro Indonesia Adek Berry berbagi pengalaman ilmu fotografi jurnalis kepada pewarta foto, mahasiswa, serta komunitas klub foto di Makassar, Sulawesi Selatan.

"Saya dulunya di Fakultas Kedokteran Gigi Jakarta, tapi malah sarjana di Pertanian. Karena saat itu saya yakin pengalaman penelitian pertanian bisa menyalurkan hobi foto saya," tutur Berry di Makassar, Senin malam.

Kegiatan tersebut digagas Pewarta Foto Indonesia (PFI) Makassar, Galeri Foto Jurnalistik Antara (GFJA) Makassar, Lawo Institute.

Sebagai pewarta foto di kantor berita asal Prancis itu dan 20 tahun mengendalikan kamera, Berry bercerita tentang pengalamannya ditugaskan tiga kali ke medan perang di Afghanistan guna mengabadikan momen perang, dampak perang serta cerita kemanusiaan.

Dari pengalaman itu, semakin membuatnya yakin bahwa menjadi jurnalis foto tidak sekadar mengabadikan peristiwa, tetapi juga harus siap memberikan data termasuk menyajikan fakta di lapangan yang dibutuhkan editor di newsroom kantornya.

"Kita diminta untuk mencari-cari data buka hanya foto saja. Sederhana tapi sulit mencari data karena menggunakan rumus jurnalistik 5W tambah 1 H. Seperti jumlah penduduk satu daerah, nama, detail obyek foto, bahkan selalu minta nomor ponsel dengan asumsi editor kapan saja butuh data tinggal ditindak lanjuti, " beber perempuan pecinta foto sejak SMA ini.

Pada kesempatan itu, rata-rata mahasiswa bertanya apa sensasi, passion, dan pengalaman meliput dalam rangkaian peristiwa Indonesia dalam dua dekade terakhir. Bahkan beberapa bertanya mengapa memilih jurusan namun tidak sesuai bidangnya.

"Itulah seninya hidup fotografi," katanya.

Berry menambahkan, esensi foto jurnalis adalah bukan kepada bagus atau indahnya sebuah karya, tapi bagaimana penyampaian pesan itu kepada orang, dan orang akan mengerti meski itu hanya sebuah gambar yang bercerita tentang apa yang terjadi di sana.

Alasan dirinya tertarik dengan dunia fotografi sejak Sekolah Menegah Pertama selanjutnya berlanjut ke tingkat Sekolah Menengah Atas. Kesenangannya kala itu menjadi seorang jurnalis foto, pada fotografi semakin kuat hingga dilanjutkan di bangku kuliah.

"Saat itu biaya fotografi mahal sekali di zaman saya. Waktu kuliah kiriman orang tua hanya cukup untuk beli rool film 36 kutip, belum biaya cetaknya. Jadi kalau tak cerdas dan cermat mencari obyekan, susah dan semua terbuang percuma," ucapnya.

Untuk objek foto, lanjut dia, intens memilih kegiatan cinta alam dengan menyalurkan hobi memotret. Saat kuliah itulah, dirinya punya pengalaman tidak terlupakan karena mendapatkan hadiah kamera SLR Yashica FX-3 dari seorang jurnalis.

Sifat kamera SLR yang menuntut penggunanya tahu persis teknik fotografi, sehingga membuatnya gemar mengasah keterampilan fotografi.

Dengan `learning by doing` atau belajar sambil mencoba dan `trial and error` coba tapi gagal, kemampuan fotografi pun akhirnya berkembang.

"Agar lebih bagus dan mengasah keterampilan saya bergabung dengan sesama penggemar fotografi di Jember, Holcyon Photography Club, kala itu dibina wartawan Surabaya Post, almarhum Dewanto Nusantoro mempelajari tentang dunia fotografi khususnya foto journalitik, itu saya geluti sampai sekarang," tambah dia.
Pewarta :
Editor: Daniel
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar