Peneliti ITB ciptakan hunian kampung naga

id kampung naga,itb

logo ITB (id.wikipedia.org)

Bandung (Antaranews Sulsel) - Pakar Institut Teknologi Bandung (ITB) di kelompok keahlian teknologi bangunan Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK) bersama dengan tim Green Research Building Center mengembangkan hunian sederhana berbiaya rendah berbahan utama bamboo,  yang terinspirasi dari kehidupan masyarakat di Kampung Naga, Kabupaten Tasikmalaya.

Hunian sederhana berbiaya rendah berbahan utama bambu yang diciptakan oleh tim peneliti ITB, yang terdiri dari Dewi Larasati, Ph.D, Anjar Primasetra, M.T, Firman Fadhly AR, M.T, dan Suhendri M.Sc, serta Prinka Victoria, M.T, Dewi Rachmaniatus M.T, Nurhijrah, M.T dan Ardian Haryo sebagai asisten riset diberi nama Rumanaga.



Salah seorang perwakilan dari Tim Peneliti ITB, Dewi Larasati, Rabu, mengatakan, pada awalnya melihat adanya masalah yang timbul dalam masyarakat Kampung Naga yakni para generasi muda di sana cenderung untuk mencari kerja di kota dan hal tersebut akan menimbulkan dampak hilangnya kelestarian kerajinan bambu yang sudah turun temurun di desa itu sendiri.



"Makanya, kita datang dan tinggal disana, berbincang-bincang, untuk mencari kearifan lokalnya." ujar Dewi.



Di kampung adat ini masyarakatnya menjunjung tinggi nilai-nilai tradisi, termasuk menggunakan bahan-bahan alam untuk menjalani kehidupan seperti pada hunian atau rumahnya yang hampir seluruh bangunan dan furniture terbuat dari bambu.



Dimulai sejak tahun 2013, tim riset ITB bekerja sama dengan masyarakat Kampung Naga untuk membuat produk-produk berbahan dasar bambu. Proses perancangan dan desain dilakukan oleh tim riset dari Program Studi (Prodi) Arsitektur SAPPK dan masyarakat Kampung Naga dilibatkan dalam pengerjaan pengembangan produknya sehingga warisan kearifan lokal tetap terjaga.



"Rumah vernakular Kampung Naga merupakan contoh baik untuk pembangunan prefabrikasi material lokal melalui pemberdayaan masyarakatnya," ujar Dewi.



Ia mengatakan Rumanaga menggabungkan dua konsep dalam perancangannya, pertama yaitu konsep arsitektur vernakular dari Kampung Naga dengan konsep prinsip bangunan prefabrikasi modern.



"Arsitektur vernakular terbentuk dari proses yang berangsur lama dan berulang-ulang sesuai perilaku, kebiasaan, dan kebudayaan di suatu tempat," kata dia.



Menurut dia, proses ini dapat menciptakan hunian yang ramah lingkungan, hemat energi, material yang berkelanjutan, serta keikutsertaan masyarakat.



"Kearifan lokal tersebut digabungkan dengan penyesuaian aspek desain agar dapat diterima masyarakat sesuai perkembangan zaman," ujarnya.



Dia menceritakan proses konstruksi Rumanaga. Seluruh komponen bangunan disiapkan terlebih dahulu di suatu tempat, lalu dibawa, dan dirakit di lokasi konstruksi dan penggunaan material lokal dan teknik konstruksi lokal ditekankan agar pembangunan Rumanaga tetap mengusung konsep pemberdayaan masyarakat.



Ia menjelaskan agar bambu tetap bercita rasa tradisional dan diterima oleh tren saat ini adalah dengan menjadikan anyaman asli Kampung Naga menjadi tiles berukuran 60 cm x 60 cm.



"Nantinya, anyaman seperti anyaman bilik biasa, anyaman sasak, anyaman palupuh, dan anyaman bilik bunga yang telah berbentuk tiles ini akan disusun menjadi tembok berpola agar tidak monoton," katanya.



Sedangkan atap Rumanaga dapat mencontoh langsung dari Kampung Naga yang berupa ijuk, ataupun diganti menjadi rumbia, genteng, dan juga bambu.



Desain Rumanaga yang banyak terinspirasi dari Kampung Naga ini dapat terlihat dari rumah yang berbentuk panggung untuk menjaga kelembapan udara dan menghindari serangan rayap.



"Untuk saat ini, Rumanaga banyak diperuntukkan bagi sektor pariwisata, khususnya di Kabupaten Bandung," ujar Dewi.



Permintaan akan destinasi wisata yang tinggi dan jarak yang relatif dekat dengan Jakarta membuat potensi rumah tradisional sebagai penginapan menjadi tinggi.



Rumanaga diharapkan menjadi solusi dan alternatif bagi pemenuhan kebutuhan rumah tinggal berbiaya rendah bagi masyarakat. Pemberdayaan masyarakat Kampung Naga juga diharapkan akan tetap bertahan untuk menjaga kelestarian tradisi yang telah turun temurun.



Fasilitas workshop bambu diadakan agar pola pemberdayaan masyarakat dalam pemenuhan perumahan dapat berlanjut. Workshop bambu yang terletak di Kampung Naga di Tasikmalaya dan kota Bandung itu, dapat mengajak masyarakat untuk lebih dekat mengenal konstruksi bambu, dan juga kayu, serta menjalin komunikasi intensif dengan masyarakat lokal.

Pewarta :
Editor: Laode Masrafi
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar