Ekonom UI: pemerintah harus miliki terobosan kebijakan CPO

id pemerintah harus,miliki terobosan,kebijakan CPO

Ekonom UI: pemerintah harus miliki terobosan kebijakan CPO

Dr Lana Soelistianingsih. (Foto ANTARA/Suriani Mappong)

Makassar (Antaranews) - Ekonomi dari Universitas Indonesia Dr Lana Soelistianingsih mengatakan pemerintah harus memiliki terobosan kebijakan untuk mendorong peningkatan harga minyak kelapa sawit atau `crude palm oil (CPO)` dan melindungi petani plasma.

"Mencermati permasalahan pasar CPO saat ini, seharusnya ada terobosan kebijakan pemerintah, sehingga Indonesia memiliki peran di pasar dunia, yang nota bene untuk menyelamatkan petani plasma di lapangan," kata Soelistianingsih menanggapi permasalahan CPO, Senin.

Menurut dosen Fakultas Ekonomi UI yang juga merupakan Kepala Ekonom PT Samuel Aset Manajemen, pentingnya terobosan kebijakan itu karena Indonesia tercatat sebagai produsen CPO terbesar di dunia dan juga banyak daerah di Indonesia yang tergantung dari produksi minyak sawit tersebut.

Berkaitan dengan hal tersebut, lanjut dia, apabila harga CPO tidak membaik tentu akan ada beban di daerah dan itu artinya juga akan menjadi beban bagi nasional. "Karena kita lihat konstribusi daerah dari CPO terhadap pendapatan domestik bruto (PDB) masih 42 persen dan itu cukup besar," ujar Dr Lana di sela acara "Media Gathering" Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sulsel di Makassar.

Sementara itu, areal tanaman kelapa sawit hampir meliputi semua daerah di Pulau Jawa, kemudian ditambah daerah lainnya di Indonesia. "Menelaah kondisi itu, wajar jika harga CPO di lapangan tidak membaik, maka akan menjadi tekanan khususnya pekerja di sektor pertanian yang umumnya adalah petani plasma," ujarnya.

Melihat kondisi itu, lanjut dia disela-sela Media Gathering yang digelar Kpw Bank Indonesia Sulsel pada 27-29 April 2008, harus dapat menjadi pertimbangan bagi pemerintah pusat maupun daerah untuk dapat mengambil kebijakan strategis dalam mendorong sektor ekonomi yang berbasis pada pertanian rakyat dan melibatkan banyak tenaga kerja.
Pewarta :
Editor: Laode Masrafi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar