Masih dirawat, dua jamaah kloter pertama Sumsel tertunda pulang

id Haji

Masih dirawat, dua jamaah kloter pertama Sumsel tertunda pulang

Jamaah haji asal Sumsel. (FOTO ANTARA/dok)

Palembang (ANTARA) - Dua orang jamaah haji kelompok terbang (kloter) pertama Embarkasi Palembang masih dirawat di Arab Saudi karena sakit sehingga belum bisa pulang ke Sumatera Selatan.

Kakanwil Kementerian Agama Sumatera Selatan HM Alfajri Zabidi melalui Kasubag Humas Saefudin Latif di Palembang, Ahad mengatakan, kloter pertama sudah tiba di Palembang pada Sabtu (17/8) malam sekitar pukul 23.20 WIB.

Namun dari jamaah yang tergabung pada kloter pertama itu, katanya, dua di antaranya sakit dan sekarang masih dalam perawatan di Arab Saudi.

Jamaah yang masih dalam perawatan itu bernama Sariyah Mukadi dan M. Nasrudin keduanya dari Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur.

Selain itu, kata dia, ada seorang jamaah yang meninggal yang tergabung dalam kloter pertama itu atas nama Kaminem Matahir Asir (58) asal Ogan Komering Ulu Timur. Almarhumah meninggal pada 8 Agustus 2019 di Mekkah.

Meski ada yang meninggal, katanya, jamaah kloter pertama yang pulang semalam tetap berjumlah 447 orang karena ada dua jamaah yang ikut bergabung, yaitu Hanapi Harom dari kloter 18 dan Sarmiati Katiran dari kloter 4.

"Saat berangkat ke Tanah Suci, jamaah kloter 1 berjumlah 448 orang. Namun ada satu jamaah yang meninggal di Arab Saudi dan dua jamaah sakit sehingga harus menjalani perawatan dan belum bisa kembali ke Tanah Air," ujar dia.

Pemulangan jamaah haji Embarkasi Palembang terus berlanjut dan akan berakhir pada 4 September mendatang.

Musim haji 2019 ini, Embarkasi Palembang memberangkatkan 8.509 jamaah, dengan rincian Sumsel 7.166 jamaah, Babel 1.248, dan 95 petugas kloter.

Mengenai proses pemulangan jamaah, saat tiba di bandara mereka akan menjalani proses pemeriksaan kesehatan melalui therma scanner selama sekitar dua jam.

Setelah itu jamaah masuk asrama haji untuk beristirahat sejenak, demikian Saefudin Latif .

 

Pewarta : Ujang Idrus
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar